Suryana menyarankan agar ada kerja sama yang lebih baik antara pengelola pasar, pemerintah, dan para pihak terkait, termasuk perguruan tinggi untuk mengolah sampah menjadi pupuk organik yang lebih bermanfaat. Namun, harapannya itu masih jauh dari kenyataan. “Tak ada koordinasi, tak ada upaya nyata untuk memperbaiki keadaan ini,” katanya dengan nada yang mulai kehilangan harapan.
Ada ironi dalam kehidupan para pedagang Pasar Caringin. Mereka yang sudah berjuang keras untuk bertahan hidup di tengah gundukan sampah, kini dipaksa untuk memikul beban lain, yaitu pengelolaan sampah yang semestinya bukan menjadi tanggung jawab mereka. Di tengah terik matahari dan hujan yang tak kunjung reda, mereka berusaha mengais rezeki dengan sisa-sisa harapan yang semakin memudar.
Biaya pengelolaan sampah yang harus mereka tanggung pun semakin tinggi. Suryana menyebutkan bahwa setiap pedagang harus membayar sekitar Rp 300 ribu per bulan untuk biaya sampah dan keamanan. Namun dengan kondisi pasar yang semakin sepi, pendapatan mereka pun tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan.
