Ummat Islam,
Maka orang-orang muslim tidak boleh menyerupai orang-orang kafir. Hendaklah ia berbangga dengan agamanya, hendaklah ia bergembira dengan kitab sucinya, hendaklah ia berbangga bahwasanya Allah turunkan kepada dia Al-Qur’an, Sunnah dan agama yang haq yang berasal dari pencipta alam semesta. Allah berfirman:
أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ
“Tidakkah mencukupi buat mereka bahwa Kami turunkan kepada mereka Al-Qur’an ini.” (QS. Al-Ankabut[29]: 51)
Apakah tidak cukup -saudaraku- sehingga harus kita mengadakan perayaan-perayaan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah bahkan kemudian menyerupai orang-orang yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Baca Juga:Saldo DANA Gratis Rp250.000 Langsung Masuk Dompet Hanya Dengan Gerakkan KakiSukses WD Rp100.000 Perhari Dari Game Penghasil Uang Favorit ini
Didalam shahih Bukhari ada seorang Yahudi berkata kepada Umar Bin Khattab, “Wahai Amirul Mukminin, ada satu ayat dalam kitab kalian, kalaulah ayat itu turun kepada kami orang-orang Yahudi niscaya kami akan jadikan ia sebagai perayaan.” Lihat, orang-orang Yahudi mengatakan, “kalaulah ayat itu turun kepada kami orang-orang Yahudi, kami akan jadikan sebagai perayaan.” Itu menunjukkan -Ya Akhi- kebiasaan menjadikan atau merayakan sesuatu itu bukan dari Islam. Islam hanya mensyariatkan kepada kita dua hari raya. Hari Idul Fitri dan Idul Adha. Maka ini bahaya yang pertama. Yaitu menyerupai orang-orang kafirin.
Yang kedua kita telah berbuat bid’ah dalam agama. Karena perayaan itu termasuk pensyariatan, saudaraku. Ketika Rasulullah sampai ke Kota Madinah, didapati orang-orang Anshar sedang merayakan 2 perayaan mereka. Kemudian Rasulullah bertanya, “apa ini?”, kata mereka, “Ini adalah hari raya kami ya Rasulullah, kami bermain padanya.”, maka Rasulullah bersabda, “Allah telah menggantikan untuk kalian dengan yang lebih baik dari itu, yaitu hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha.”
Ummatal Islam,
Maka siapa yang mengadakan perayaan sesuatu yang tidak pernah disyariatkan oleh Allah dan RasulNya, maka ia telah membuat syariat yang tidak pernah diizinkan oleh Allah dan RasulNya. Allah berfirman:
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّـهُ
“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu bagi Allah yang memberikan syariat kepada mereka sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala?” (QS. Asy-Syura[42]: 21)
Diantara mudharatnya, saudaraku.. Yaitu berbuat maksiat kepada Allah. Kita dapati mereka merayakan tahun baru bercampur padanya laki-laki dan wanita, mereka tidak peduli dengan batasan-batasan Allah, mereka pun berbuat maksiat kepada Allah.
