JABAR EKSPRES – Di tengah kemajuan teknologi dan modernisasi, Karmini, wanita 63 tahun dari Kampung Randukurung, Desa Kutawaringin, Kabupaten Bandung, tetap setia dengan keterampilan membuat tusuk sate.
Usianya yang tidak lagi muda tak menjadi penghalang bagi Karmini untuk terus menghidupi dirinya selama bertahun-tahun.
Di kampung yang dikenal sebagai sentra produksi tusuk sate, tangan Karmini masih lincah memainkan pisau serut dan golok untuk memotong serta membelah bambu.
Baca Juga:Kendaraan Hybrid Tunjukkan Kadar Emisi RendahHarga Komoditi Pangan Melonjak Jelang Idul Adha, DKKP Bandung Ungkap Penyebabnya
Keahliannya ini tidak hanya menunjukkan kemampuan fisiknya yang masih prima, tetapi juga dedikasi dan ketekunan yang luar biasa.

“Saya sudah terbiasa dengan pekerjaan ini. Meskipun ini biasanya pekerjaan laki-laki, saya harus melakukannya setelah suami saya meninggal dunia,” ungkap Karmini ketika ditemui di kediamannya Kamis (13/6/2024).
“Yang penting halal, dan di sini semua juga pada bikin tusuk sate,” tambahnya.
Beberapa tahapan membuat tusumk sate ia tekuni, mulai dari memotong bambu berukuran 5 hingga 6 meter dengan gergaji tradisional, hingga mengirisnya menjadi potongan kecil seukuran lidi.
“Setelah dipotong, potongan bambu ini nanti diruncingkan sesuai pesanan, biasanya berkisar antara 20 hingga 23 sentimeter,” ungkapnya.
Proses peruncingan ini memerlukan ketelitian dan keterampilan tinggi. Meski kadang merasa jenuh, Karmini tetap mampu menghasilkan ribuan tusuk sate dengan tangannya yang cekatan.
Kebutuhan tusuk sate meningkat drastis menjelang Idul Adha.
“Alhamdulillah kalau Idul Adha mah suka banyak pesanan, saya juga kadang suka dibantu cucu terutama proses peruncingan,” ujarnya dengan senyum.
Baca Juga:Pemasaran Hasil Panen jadi Fokus Pansus Pertanian OrganikDalam Kurun Waktu 3 Bulan, 6 Kasus Narkoba di Jabar Berhasil Diungkap
Tusuk sate yang telah diruncingkan kemudian dijemur selama satu hingga dua hari pada musim kemarau, atau tiga hari pada musim hujan.
Karmini menggunakan bara api untuk mempercepat proses pengeringan saat musim hujan.
“Setelah kering, tusuk sate digilas pake kaki agar lebih halus sebelum diikat dalam satu ikatan yang berisi 200 tusuk sate,” terangnya.
Karmini menjelaskan bahwa satu batang bambu yang berharga Rp50.000 dapat menghasilkan belasan ribu tusuk sate.
“Tusuk sate ini dijual dengan harga Rp1.500 hingga Rp2.000 per ikat, tergantung ukurannya,” katanya.
