Kasus DBD di Bandung Barat Tinggi, 9 Orang Meninggal Dunia

Ilustrasi nyamuk Aedes aegyti. Foto dok (pixabay)
Ilustrasi nyamuk Aedes aegyti. Foto dok (pixabay)
0 Komentar

JABAR EKSPRES  – Penyakit Demam Berdarah Dangue (DBD) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) menjangkit ribuan orang dalam kurun waktu tiga bulan.

Merujuk data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat, sepanjang tahun 2024, 1.040 orang terjangkit dengan angka kasus kematian sebanyak 9 orang selama Januari hingga 19 Maret 2024.

Angka ini melonjak dibandingkan periode yang sama pada tahun 2023. Dimana angka kasus DBD di KBB tahun 2023 hanya mencapai 447 kasus, dengan 2 kasus kematian.

Baca Juga:Kepala BKPSDM Majalengka Tak Hadir dalam Proses Pemeriksaan, Kejati Jabar Tahan 1 Tersangka LainnyaKontroversi Cuitan Connie Rahakundini, Aliansi Masyarakat Pemilu Damai Geruduk Mapolresta Bandung

“Jika dibandingkan dengan tahun lalu, angka ini meningkat 100 persen lebih. Sehingga potensi penambahan kasus DBD masih terbuka,” ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinkes KBB, Nurul Rasihan, Rabu (20/3/2024).

Ia menyebut, dengan angka mencapai ribuan kasus DBD, Bandung Barat menempati Insidens Rate (IR) 61 kasus per 100.000 penduduk, artinya dari 100.000 penduduk warga Bandung Barat terdapat potensi 61 kasus DBD.

Sedangkan indeks fatalitas penyakit atau Case Fatality Rate (CFR) lanjut dia, mencapai 0.77 persen, artinya dari seluruh penduduk kbb ada sekitar 0.77% diantaranya meninggal karena DBD.

“Dilihat dari data sebaran kasusnya, kecamatan paling tertinggi, Cililin dengan 165 kasus, Lembang 152 kasus, dan Cipongkor dengan 98 kasus,” jelasnya.

Ia menilai, terdapat beberapa faktor pemicu terjadinya lonjakan kasus DBD di wilayahnya. Salah satunya faktor cuaca musim hujan, sehingga jentik nyamuk jenis Aedes aegyti berkembang lebih cepat.

Kendati demikian, Nurul menyebut peningkatan kasus demam berdarah dengue di kabupatennya terjadi sangat signifikan. Meski begitu, kata dia, angka fatalitas atau orang yang meninggal akibat penyakit itu masih dalam batas aman.

“Bisa karena terlambat datang ke fasilitas kesehatan, atau juga kurangnya kesadaran dari masyarakat terhadap DBD,” katanya.

Baca Juga:Kepergok Anggota Polsek Pakai Motor Knalpot Bising, Pelajar di Cangkuang Bandung Auto di HukumJual Tabung Gas Ilegal di Baleendah, 4 Pria Diamankan Polisi

Dengan situasi saat ini, Nurul meminta masyarakat Bandung Barat untuk merutinkan pemberantasan sarang nyamuk. Siasat ini juga selalu dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan.

Selain itu, dengan prinsip 3M yaitu menguras tempat air, menutup tempat air dan mengubur barang-barang yang berpotensi membuat air tergenang. Dengan pola seperti itu maka kasus DBD diharapkan dapat menurun.

”Kami juga kumpulkan kader kesehatan di Bandung Barat untuk terus menekan penyebaran DBD sampai kasus demam berdarah di daerah menurun. Untuk pelaksanaan fogging sudah dilakukan sebanyak 30 kali,” tandasnya. (Wit)

0 Komentar