Mengenal Food Bank Bandung, Open Volunteer Cepat Sold Out

JABAR EKSPRES – Keberadaan Food Bank Bandung makin dikenal masyarakat. Semangatnya dalam gerakan penyelamatan pangan itu banyak mendapat respon positif masyarakat. Salah satu buktinya adalah banyaknya volunteer atau relawan yang ingin bergabung dalam kegiatan tersebut.

Co-founder Food Bank Bandung, M. Gumilang Pramuwidyatama menceritakan, setiap bulan pihaknya membuka pendaftaran volunteer. Ia tidak menduga bahwa open volunteer itu cepat direspon masyarakat. “Kami sering cepat sold out, kadang itu tidak sampai 2 jam,” terangnya kepada Jabar Ekspres.

Gumilang melanjutkan, para volunteer itu berasal dari berbagai kalangan masyarakat. Mulai dari mahasiswa, pelajar, hingga komunitas ibu-ibu. “Ada juga yang sengaja mengajak anaknya, niatnya mendidik anak untuk bersosial juga,” cetusnya.

BACA JUGA: Mengenal Food Bank Bandung, Kumpulkan Makanan Berlebih dari Hotel Bintang untuk Masyarakat

Kegiatan organisasi non profit itu seminggu dua kali. Yakni, Rabu dan Sabtu. Para volunteer terlibat mulai dari pengambilan makanan, mengolah, hingga mendistribusikan. Jika dihitung kuota volunteer sebulannya ada di kisaran 120 orang.

Proses pengolahan makanan di Food Bank Bandung juga bukan sembarangan. Pertama dari suplainya juga dipilah-pilah. Kebanyakan kalau makanan jadi adalah dari hotel berbintang. Food Bank Bandung bahkan jarang menerima makanan dari masyarakat langsung, misalnya mereka-mereka yang usai hajatan.

Pola suplay makanan berlebih itu tidak pasti. Tergantung momentum dan okupansi hotel. Biasanya ketika Hari Raya atau Ramadan suplai makanan akan melimpah.

BACA JUGA: Firli Bahuri Jadi Tersangka Dugaan Kasus Pemerasan, Ganjar: Power Tends to Corrupt

Setibanya di basecamp, makanan akan dipilah dan diolah secara selektif. Ada makanan yang bisa langsung di packing tapi ada makanan yang perlu dihangatkan dulu.

Jika terpaksa didapati makanan yang kurang layak, makanan itu tentu tidak ikut di distribusikan. Tapi akan disalurkan ke kelompok atau komunitas lain yang biasanya untuk makanan magot.

Dalam mengolah dan memilah makanan, Food Bank Bandung juga banyak berkolaborasi dengan berbagai ahli. Misalnya dari pihak kampus hingga BPOM. Tujuannya agar benar-benar selektif. Setelah dipacking ulang, baru makanan-makanan itu didistribusikan ke masyarakat yang membutuhkan. (son)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan