JABAR EKSPRES – Jaringan Survei Pemuda Pelajar (JSPP) dan Ragaplasma Research (RC) menyebut nama mantan Gubernur Jawa Barat (Jabar) periode 2018 – 2023 Ridwan Kamil masih memiliki angka elektabilitas tinggi dibandingkan beberapa kandidat lainnya yang muncul dalam bursa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Barat 2024.
Berdasarkan survei yang dilakukannya lewat pertanyaan terbuka kepada masyarakat melalui potret partisipasi masyarakat Jawa Barat menjelang pemilu serentak 2024, Direktur JSSP Salman Ramadhani menyebut, nama Ridwan Kamil memiliki angka elektabilitas lebih tinggi yakni sebesar 25,2 persen dibandingkan beberapa kandidat lainnya seperti Dedi Mulyadi yang hanya 16,7 persen.
“Untuk wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi memiliki angka elektabilitas sebesar 6,5 persen, lalu ada ada Dessy Ratnasari 4,2 persen, selanjutnya Uu Ruzhanul 3,8 persen, Atalia Praratya 1,9 persen, Kaesang Pangarep 1,4 persen, dan Achmad Fachmi 1,3 persen. Jadi untuk alsan masyarakat memilih Gubernur dam Wakil Gubernur Jabar ini, dikarenakan para kandidat merupakan sosok yang baik, merakyat, dan tegas,” katanya.
Baca Juga:Minat Baca Siswa Rendah, SMKN 3 Cimahi Terapkan Budaya LiterasiDukung Karakteristik Lari dan Gaya Hidup Lebih Sehat, Ini 4 Koleksi Sepatu Footwear Technology
Meski begitu, Salman mengatakan untuk tingkat popularitas bagi kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar, nama Dedi Mulyadi memiliki angka yang cukup besar yakni sekitar 52 persen.
“Jadi nama Dedi Mulyadi itu memiliki angka sekitar 52 persen untuk tingkat popularitas di masyarakat sebagai kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar. Jadi kenapa kita masukan nama Dedi Mulyadi, karena Ridwan Kamil itu popularitas sudah 90 persenan, jadi sudah sangat tinggi dan elektabilitasnya juga sudah baik,” ucapnya.
Maka dari itu, ia menuturkan berdasarkan surveinya, Nama Ridwan Kami disebut sebagai sosok nasional.
“Sehingga kami berpendapat Ridwan Kamil ini lebih banyak di urusan pencapresan (calon presiden) dalam analisis kamu. Jadi Ridwan Kamil ini sudah menjadi tokoh nasional. Sehingga untuk di Provinsi (kandidat sebagai Gubernur) harus memilih alternatif lain,” pungkasnya. (San).
