JABAR EKSPRES – Sejumlah warga di dekat perbatasan Jalur Gaza, Israel, menyuarakan kekecewaan terhadap pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Mereka menilai respons pemerintah terlalu lambat dalam melindungi dan mengevakuasi warga dari serangan milisi Hamas.
Ketegangan antara Hamas dan Israel telah memaksa sebagian warga di perbatasan Gaza untuk bersiap-siap melakukan evakuasi diri dan keluarga. Penduduk Sderot di Israel selatan, seperti yang disampaikan oleh tentara Gil, merasakan dampak serangan ini secara langsung. Serangan yang berulang dalam beberapa tahun terakhir telah membuat penduduk terbiasa dengan suara sirine peringatan bom.
Menurut laporan AFP, pasukan bersenjata Hamas menyerbu Sderot dan daerah perbatasan lainnya, menyebabkan kematian 1.400 orang dan 200 warga lainnya menjadi sandera.
Baca Juga:Daftar Pemimpin Hamas yang Gugur dalam Serangan IsraelLampu Hijau dari Netanyahu: Pasukan Israel Siap Masuki Jalur Gaza Palestina
Pemerintah Israel menawarkan bus ke hotel-hotel di kota lain untuk menampung 30.000 penduduk Sderot. Meskipun 4.000 penduduk lainnya masih berada di kota tersebut, total 60.000 pengungsi diharapkan meninggalkan rumah mereka, terutama di wilayah Israel Utara dan yang berbatasan 4-7 kilometer dari Gaza.
Namun, ada kekecewaan dari masyarakat terkait kelambatan tindakan pemerintah dalam menyelamatkan warganya. Warga, seperti Shamilov, menyatakan bahwa mereka tidak bisa menunggu lebih lama lagi, terutama dengan waktu perjalanan yang memakan waktu lebih dari tiga jam ke kota lain.
