JABAR EKSPRES – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya terus berupaya meningkatkan sarana dan prasarana layanan kesehatan melalui penjajakan kerja sama dengan berbagai pihak. Saat ini, terdapat dua lembaga yang telah mengonfirmasi rencana pembangunan rumah sakit di wilayah Kabupaten Tasikmalaya.
Lembaga pertama yakni Universitas Padjadjaran yang berencana membangun rumah sakit tipe D di wilayah Tasikmalaya Selatan, tepatnya di Kecamatan Cipatujah. Selain itu, organisasi masyarakat Persatuan Islam (Persis) juga berencana membangun rumah sakit tipe C di wilayah Kecamatan Ciawi.
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menyambut antusias rencana tersebut. Kehadiran fasilitas kesehatan baru dinilai menjadi kebutuhan penting masyarakat, terlebih dengan kondisi geografis Kabupaten Tasikmalaya yang luas dan masih terbatasnya fasilitas kesehatan pemerintah.
Baca Juga:Cegah Penyimpangan, Kades dan BPD Se-Tasikmalaya Dibekali Ilmu Tata Kelola DesaNGERI! Guru di Cariu Bogor Dibegal, Korban Ditodong Sajam hingga Didorong ke Jurang
Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin, mengatakan keberadaan rumah sakit baru di wilayah Tasikmalaya Selatan sangat penting untuk mendekatkan akses layanan kesehatan bagi masyarakat yang selama ini terkendala jarak tempuh menuju rumah sakit rujukan.
“Masyarakat yang dari Cipatujah dan Culamega harus menempuh waktu berjam-jam ke RSUD KHZ Musthafa. Sehingga banyak keluhan, dan kasihan betul. Kalau lahirannya normal bisa saja ke puskesmas, tapi kalau harus tindakan sesar, tetap harus ke rumah sakit,” ujarnya, Senin (18/5/2026)
Menurut Cecep, pembangunan rumah sakit tersebut juga sejalan dengan rencana pembangunan daerah yang menargetkan pemerataan layanan kesehatan di empat wilayah Tasikmalaya, yakni Barat, Selatan, Utara, dan Timur.
“Jadi kami di RPJMD pembangunan itu harus merata di empat wilayah. Termasuk rumah sakit. Sekarang baru ada di Barat RSUD KHZ Musthafa, selatan RSUD TNT dan rencana rumah sakit oleh UNPAD. Tinggal nanti di Utara akan ada rumah sakit dibangun oleh Persis, tinggal nanti di Timur,” katanya.
Ia menargetkan pembangunan rumah sakit tersebut mulai menunjukkan progres sebelum satu tahun masa kepemimpinannya berjalan. Bahkan, dalam dua tahun ke depan diharapkan bangunan rumah sakit sudah berdiri atau bahkan beroperasi.
Cecep menegaskan, pembangunan tidak harus sepenuhnya dibebankan kepada APBD. Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi solusi agar pembangunan tetap berjalan di tengah keterbatasan anggaran daerah.
