Viral ! Boraks Bisa Atasi Peradangan, Begini Kata Dr. Kelly

JABAR EKSPRES- Baru-baru ini, informasi mengenai penambahan boraks ke dalam air minum atau air mandi menjadi viral di platform TikTok. Tren ini diklaim bahwa boraks bisa atasi peradangan.

Namun, Dr. Kelly Johnson-Arbor membantah tren viral mengenai penggunaan boraks tersebut. Boraks adalah zat tepung yang ditemukan dalam deterjen dan dijual sebagai produk pembersih.

Asam borat, formulasi lain dari senyawa boron yang sama, juga digunakan sebagai pestisida untuk membunuh semut dan kecoa.

BACA JUGA : Viral! Usaha franchise Neynisfood Kirim Buah Busuk ke Mitra Bisnis

Boraks telah dilarang dalam produk makanan di Amerika Serikat, namun beberapa orang di TikTok secara keliru merekomendasikan penggunaan boraks sebagai cara untuk mengurangi peradangan dan mengatasi nyeri sendi.

Informasi yang salah lainnya adalah berendam dalam boraks di bak mandi dapat membantu mendetoksifikasi tubuh.

Beberapa influencer dengan ribuan pengikut di TikTok telah merekomendasikan penggunaan boraks dalam video, namun video tersebut telah dihapus.

Dr. Johnson-Arbor, seorang dokter toksikologi dari National Capital Poison Center di AS, menyatakan bahwa boraks dapat menyebabkan iritasi lambung dan berpotensi menyebabkan muntah berwarna biru kehijauan atau diare jika tertelan.

Penggunaan boraks dalam jangka panjang dapat menyebabkan anemia dan kejang.

Selain itu, berendam dalam boraks dapat menyebabkan ruam pada kulit yang membuatnya tampak merah muda seperti lobster rebus dan bahkan mengalami pengelupasan kulit.

Dr. Johnson-Arbor menegaskan bahwa tidak ada bukti mendukung penggunaan boraks pada manusia untuk mengatasi peradangan atau mengurangi stres oksidatif.

Beberapa tren kesehatan di media sosial sering kali berasal dari salah tafsir penelitian ilmiah. Dalam kasus boraks.

BACA JUGA : Viral! WNI di Malaysia Minta Dipulangkan, Inilah Penyebabnya

Beberapa pembuat konten di TikTok mengutip klaim seorang peneliti bahwa boron adalah nutrisi penting untuk kesehatan tulang dan persendian, namun klaim ini tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Dr. Johnson-Arbor menekankan bahwa misinformasi kesehatan di media sosial seringkali berkaitan dengan tema-tema tertentu, dan penting bagi masyarakat untuk berhati-hati dan mengutip informasi kesehatan dari sumber yang terpercaya dan berdasarkan penelitian ilmiah yang valid.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan