Diciptabintar Kota Bandung Tegaskan Batasi Pembangunan, Beberkan Kondisi Kota Kembang saat Ini

JABAR EKSPRES – Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang (Diciptabintar) Kota Bandung menegaskan pihaknya membatasi pembangunan.

Diciptabintar Kota Bandung buka suara soal tata kelola ruang di wilayah Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat yang baru-baru ini menjadi sorotan publik.

Bahkan Diciptabintar Kota Bandung pun membeberkan soal pembangunan di Kota Kembang tersebut.

BACA JUGA: Penduduk Terus Bertambah, Bandung Kian Hari Makin Padat

Selain begitu pesat pembangunan infrastruktur, pengelolaan daya tampung dengan daya ruang di Kota Bandung dinilai kurang efisien jika dilihat dari kondisi penambahan jumlah penduduk.

Hal tersebut diungkap oleh Sekretaris Diciptabintar Kota Bandung, Ruli Subhanudin.

“Seperti diketahui, Kota Bandung ini punya luas sekitar 17 hektare.

Dari 17 hektare ini dibagi menjadi 8 wilayah perencanaan,” kata Ruli Subhanudin kepada JabarEkspres.com.

Lebih lanjut, Ruli Subhanudin menjelaskan bahwa dari sebanyak 8 area perencanaan atau 8 Sub Wilayah Kota (SWK) tersebut, arahan perencanaannya dibagi kepada 2, daerah Bandung bagian Timur dan sisanya.

Sebagai informasi, 8 SWK tersebut di antaranya yakni daerah Bojonegara, Cibeunying, Tegalega, Karees, Arcamanik, Ujungberung, Kordon, dan Gedebage.

Adapun 4 SWK yang merupakan perencanaannya khusus Bandung bagian Timur, yakni Arcamanik, Ujungberung, Kordon, dan Gedebage.

“Arahan perkembangan tata ruang itu, untuk saat ini diarahkan ke Timur.

Hal itu dikarenakan lahan belum terbangunnya masih luas,” kata Ruli Subhanudin

“Kemudian jumlah penduduknya pun tidak terlalu padat,” lanjutnya.

Sedangkan untuk 4 SWK lainnya yakni di Bojonegara, Cibeunying, Tegalega, dan Karees, pihak Diciptabintar Kota Bandung menegaskan tengah melakukan pembatasan pembangunan.

“Artinya kita kendalikan pembangunannya. Alasannya karena kawasan terbangunnya sudah banyak, sudah penuh,” kata Ruli Subhanudin, menegaskan.

Kemudian ia menerangkan, selain kawasan terbangunnya di Bojonegara, Cibeunying, Tegalega dan Karees dinilai sudah padat, peningkatan jumlah penduduk pun tergolong pesat.

“Kemudian banyak bangunan-bangunan cagar budaya yang membatasi, karena tidak boleh dibongkar,” katanya.

Ia juga mengungkapkan, secara desain tata kelola ruang, Kota Bandung awalnya harus diakomodir dengan jumlah penduduk sebanyak 400 ribu jiwa.

Akan tetapi, lanjutnya, apabila dilihat dari kondisi Kota Bandung saat ini, jumlah penduduk yang ada sudah melebihi dari 2 juta jiwa.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan