Azwar sendiri sudah mulai berdagang sepatu di Cibaduyut sejak tahun 2000-an. Menurut pengakuannya menurunya penjualan sepatu di Cibaduyut dialami oleh seluruh pedagang.
Terlebih, beberapa diantaranya ada yang beralih profesi menjadi penjual makanan.
“Semuanya. Kadang-kadang kan mereka alih profesi, kadang-kadang jual makanan. Abis gimana kan,” ucapnya.
Tugu Sepatu Menjadi Faktor Kelesuan
Tugu sepatu di daerah Cibaduyut sudah menjadi ikon yang dikenal di Kota Bandung. Hilangnya Tugu sepatu akibat kepetingan pembangunan, menurut Azwar juga cukup mempengaruhi dampak penjualan sepatu di Cibaduyut yang menurun.
Baca Juga:Istilah ‘Guru Marketplace’ Coreng Kehormatan Profesi PengajarCahaya PJU Kota Bandung Masih Terhalang Pohon
Azwar menuturkan, hilangnya tugu sepatu tersebut, juga menjadi salah satu toko sepatu di Cibaduyut kehilangan perhatian dari wisatawan yang datang ke Kota Bandung untuk belanja sepatu.
Terlebih, tugu sepatu itu sudah lama menjadi ciri khas dari toko sepatu di wilayah tersebut.
“Soalnya orang gak ada ya. Kalau ibaratnya gak ada kan, berarti nanti dibilangnya ciri khas Cibaduyutnya gak ada juga,” guraunya.
Sempat ingin dibangun kembali. Namun, pedagang-pedagan sepatu di Cibaduyut kurang menyukai bentuk dari desain patung sepatu yang baru.
“Iya tapi ini gak sesuai gitu. Cuman mereka-mereka (penjual) tuh (ingin) yang lebih bagus lagi bentuknya,” pungkasnya. (ben)
