Darurat Pasar Ramah Anak

ISA, (44), tentu ingin kondisi Pasar Induk Gedebage membaik. Tak hanya masalah sampah, banjir, dan peristiwa kebakaran. Pasar yang menjadi sumber penghidupan keluarganya itu, masih memiliki pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Bukan pasar ramah anak.

 

Dua puluh tahun lebih dirinya berdagang beras, pasar ramah anak merupakan hal asing di telinga. Terlebih, selama beberapa tahun, Isa sempat membesarkan sang anak sulung di toko berasnya. Cemas seolah sesuatu yang rutin dirasa.

“Tak ada yang mengasuh. Jadi, (bebas) main ke mana saja,” ungkap Isa ditemui wartawan, Kamis (27/4) sore.

Ia pun menilai, memang sudah seharusnya, Pasar Induk Gedebage mulai serius menyoal pemenuhan hak anak. Minimal, ada tempat penitipan maupun ruang-ruang belajar bagi para anak pedagang. Hal demikian, bakal membantu mereka yang terpaksa membawa buah hatinya bekerja.

Alasan itupula yang mendasari Isa, tidak membesarkan anak kedua dan ketiganya, di pasar yang belum ramah anak tersebut. Bahkan sepanjang ia berdagang, dirinya tak pernah mendengar bahasan itu dari pengelola pasar.

“Terkadang di pasar, anak-anak pada ngumpul. Anak yang tidak bersekolah, bahkan banyak. Risiko hal negatif, ya, besar. Mending (tinggal) di luar pasar,” tambahnya.

Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Gender dan Anak, Universitas Padjajaran (Unpad) Antik Bintari menyebut, apabila berbicara soal anak yang tinggal di lingkungan pasar, berarti membicarakan keamanan aktivitas mereka.

Selain risiko terjadi kecelakaan akibat hilir mudik kendaraan, Antik menjelaskan, lingkungan pasar yang notabene mayoritas orang dewasa, anak-anak cenderung melihat aktivitas yang kurang baik. Termasuk, anak-anak berisiko mendapat perlakuan jahat.

“Misal, mereka tiba-tiba dibawa orang dewasa dan mengalami pelecehan, dan lain-lain,” katanya saat dihubungi, Kamis (27/4).

Dia menambahkan, anak yang tinggal di pasar pun dihantui dengan masalah kesehatan.

“Anak sejak di kandungan saja, aksesnya tidak terpenuhi. Repot. Penuh resiko dan kerentanan. Saya belum melihat di pasar itu ada unit-unit kesehatan yang dekat. Jarang,” ungkapnya.

Menurutnya, pemerintah harus mulai serius dalam menyikapi persoalan tersebut. Mengingat saat ini, program atau kebijakan tentang pasar ramah anak, belum tersedia. Perintah mesti urun rembug dalam membahas masalah itu. Secara inklusi dan lintas sektoral.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan