Harga BBM Naik, Driver Ojol Makin Tercekik

Editor: Reporter: Yanuar Baswata

“Tapi ini BBM langsung naik. Memangnya kita ojeg onine enggak ada kebutuhan juga? Memang kami para driver ini bukan masyarakat juga?” lanjut Kosasih.

Dia meminta agar pemerintah bersikap adil. Ketika menaikkan harga BBM, maka sesuaikan juga tarif ojek online dan stabilkan antara suplai dengan kebutuhan masyarakat.

“Masih mending kalau kita orderan ramai, ini kalau sepi jangankan buat beli makan atau kasih uang ke anak istri, untuk bensin juga kita bayar pakai apa?,” tanya Kosasih.

Diketahui, penyesuaian harga tersebut membuat BBM jenis Pertalite yang semula Rp7 ribu 650 per liter kini menjadi Rp10 ribu per liter.

Sementara untuk BBM jenis solar subsidi yang semula harganya di angka Rp5 ribu 150 berubah menjadi Rp6 ribu 800 per liter.

Tidak hanya BBM bersubsidi, BBM non-subsidi pun diketahui mengalami penyesuaian harga.

BBM jenis Pertamax non-subsidi semula harganya Rp12 ribu 00 per liter, sekarang menjadi Rp14 ribu 500 per liter.

“Kalau naik BBM harga kebutuhan usahakan biar enggak meroket, terus ini subsidi juga yang menikmati orang-orang kaya, banyak uang,” tutur Kosasih.

“Buktinya saya lihat ada yang pakai mobil mewah, Pajero, itu isi bensinnya di solar ada juga di pertalite, enggak di pertamax,” tambahnya.

Kosasih menegaskan, jatah subsidi menjadi menipis karena dimanfaatkan masyarakat dengan kalangan ekonomi menengah ke atas.

Sementara itu, dia mengaku, untuk bantalan bantuan sosial (bansos) dari peralihan subsidi BBM sebesar Rp600 ribu itu sangat tidak efektif.

“Makanya, saya minta pemerintah lihat kami rakyat bawah langsung di lapangan, biar tahu. Bansos enggak merata, pembagiannya sering enggak tepat sasaran,” ujarnya.

Dikatakan Kosasih, bansos Rp600 ribu untuk empat bulan dengan sistem dua kali penyaluran itu dianggap tidak bisa jadi kompensasi atau pemecah masalah atas naiknya harga BBM.

“Logikanya aja, sekarang berarti satu bulan kita dapat Rp150 ribu. Kira-kira emang uang segitu cukup untuk kebutugan selama sebulan?,” katanya.

“Belum yang anaknya ada dua atau tiga, emang cukup sehari contoh aja yang anaknya satu, uang Rp5 ribu dipakai buat makan anak istri, cukup buat apa?,” lanjut Kosasih.

Dia berharap, pemerintah bisa mengevaluasi dan mengkalkulasikan ulang keputusan menaikkan harga BBM serta penyaluran bansos Rp600 ribu untuk empat bulan tersebut.

“Bansos juga selain itu cuman sementara, pembagiannya sering salah sasaran, temen saya banyak yang dari dulu belum pernah dapet bansos,” ucapnya.

“Tarif ojeg juga saya harap bisa segera naik, jangan harga BBM saja yang naik. Harga kebutuhan juga disesuaikan dengan ekonomi rakyat kalangan bawah, cabe mahal, telor mahal, bensin mahal,” pungkas Kosasih.*** (Bas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *