Harga BBM Naik, Driver Ojol Makin Tercekik

Editor: Reporter: Yanuar Baswata

JabarEkspres.com, BANDUNG – Keputusan Pemerintah Pusat dalam menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mendapat banyak respons.

Bahkan, tak sedikit masyarakat merasa keberatan, sebab dinilai bisa timbulkan krisis ekonomi berkepanjangan.

Salah seorang driver ojek online, Dani Ahmad Maulana (25), warga Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi mengaku, dampak perubahan harga BBM sangat terasa di hari pertama.

“Saya biasa satu hari itu motor matic sisa satu strip itu diisi full tank Rp20 ribu, pas mulai BBM naik jadi harus nambah lagi uang buat beli bensin,” kata Dani pada Jabar Ekspres, Selasa, 6 September 2022.

Dia melanjutkan, dalam satu hari aktivitas biasanya mengeluarkan biaya operasional Rp30 sampai Rp50 ribu, untuk membeli bensin dan makan.

Diketahui, harga BBM mengalami perubahan terhitung per 3 September 2022 lalu pada pukul 14.30 WIB.

“Sekarang beli full tank Rp27 sampe Rp30 ribuan, otomatis nambah biaya pengeluaran per hari. Belum lagi kita driver harus mikir buat bawa uang untuk anak dan istri di rumah,” ucap Dani.

Menurutnya, kenaikan harga BBM terkesan tidak ada pertimbangan oleh pemerintah. Keputusan tersebut dinilai tidak ada keberimbangan.

“Antara pemasukan dan pengeluaran enggak sesuai, kita tarif orderan masih belum ada kenaikan tapi bensin udah naik tinggi,” imbuhnya.

“Saya harap kebijakan ini bisa dievaluasi lagi sama pemerintah. Lihat kami rakyat di lapangan seperti apa,” tambah Dani.

Hal senada diungkapkan driver ojek online lainnya, Kosasih (35), warga Kecamatan Cisitu, Kota Bandung. Dia berujar, perubahan harga BBM hanya akan menambah beban masyarakat.

“Kita rakyat kalangan bawah tidak setuju karena analoginya begini, saya narik orderan satu hari enggak menentu ada berapa customer sementara kebutuhan sekarang pada naik, otomatis memberatkan,” ujar Kosasih pada Jabar Ekspres.

Dia mengaku, sebagai driver ojek online dalam satu harinya menargetkan penghasilan sebesar Rp150 ribu, untuk biaya operasional serta kebutuhan hidup keluarganya.

“Contoh kita operasional bensin dan makan Rp40 sampai Rp50 ribu sehari, bawa buat anak istri Rp100 ribu. Sekarang kalau target Rp150 ribu sehari berarti bawa uang pulang itu Rp80 atau Rp70 ribu,” paparnya.

Kosasih menerangkan, akibat naiknya harga BBM sangat berpotensi berdampak pada komoditas dan hal itu menjadi kekhawatiran masyarakat dengan perekonomian menengah ke bawah.

“Kita buat sehari-hari aja susah, ini BBM naik makin nambah susah kita buat memenuhi kebutuhan,” terangnya.

Kosasih menjelaskan, dirinya bisa saja menerima keputusan pemerintah saat ini, dengan syarat sesuaikan biaya ongkos atau tarif ojek online dan stabilkan harga komoditas.

“Sekitar tanggal 29 (Agustus 2022) kemarin tarif rencana mau naik tapi diundur dulu, dengan alasan kebutuhan masyarakat sedang tinggi,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.