Publik Tak Puas dengan Hasil Rekonstruksi Pembunuhan Brigadir J, Begini Kata Pakar Hukum

Publik Tak Puas dengan Hasil Rekonstruksi Pembunuhan Brigadir J, Begini Kata Pakar Hukum
Putri Candrawathi Tak Kenakan Baju Tahanan dalam Rekonstruksi Kasus Brigadir J, Pakar Hukum: Itu Tidak Lazim
0 Komentar

JAKARTA – Publik tak puas rekonstruksi pembunuhan Brigadir J yang didalangi Ferdy Sambo. Rekonstruksi itu banyak yang tidak logis, salah satunya mengenai gambaran pelecehan Putri Candrawati.

Publik tak puas rekonstruksi pembunuhan Brigadir J alias Brigadir Nofriansyah Hutabarat, karena polisi tak memperlihatkan dua hal mendasar terkait pembunuhan ini.

Polisi tidak memperlihatkan adegan perencanaan pembunuhan. Begitu juga bagaimana pelecehan seksual yang disebut-sebut dialami Putri Candrawati oleh Brigadir J.

Baca Juga:Putri Candrawathi Tetap Membantah Bantu Ferdy Sambo Bunuh Brigadir JPedagang di Pasar Cicaheum Terima Amplop Kosong dari Jokowi, Kasetpres Buka Suara

Padahal kedua rekonstruksi itu merupakan hal mendasar dalam kasus pembunuhan Brigadir J.

Dengan tak jelasnya dua hal penting tersebut, publik tak puas rekonstruksi pembunuhan Brigadir J yang digelar di dua tempat di Jakarta ini.

Pakar hukum Suparji Ahmad mengkritik rekonstruksi pembunuhan Brigadir J yang digelar pada Selasa (30/8) kemarin.

Rekonstruksi tersebut digelar di dua lokasi, di rumah dinas Ferdy Sambo di Saguling, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Kemudian di kediaman pribadi mantan Kadiv Propam itu yang lokasinya tidak terlalu berjauhan.

Menurut Suparji, rekonstruksi tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi publik dan tidak logis.

Ia mengatakan, bahwa publik berharap rekonstruksi tersebut memperagakan semua adegan yang dilakukan Ferdy Sambo terhadap Brigadir J.

Baca Juga:Peran Kuat Ma’ruf dalam Pembunuhan Brigadir J, Bikin Geleng-geleng KepalaFerdy Sambo Orang yang Pertama Tembak Brigadir J, Setelah Itu Suruh Ajudan

“Tetapi pada sisi yang lain tidak sesuai ekspektasi publik,” kata Suparji dalam keterangannya, Rabu (31/8).

Suparji mengatakan publik tak puas atas rekonstruksi pembunuhan Brigadir J ini karena tak menggambarkan fakta yang mengemuka di publik.

“Karena tidak menggambarkan imajinasi publik dan juga tidak menggambarkan fakta yang mengemuka di publik,” sambungnya.

Kendati demikian, Suparji mengapresiasi rekonstruksi yang dilakukan Polri terhadap 5 tersangka kasus kematian Brigadir J.

“Rekonstruksi pada satu sisi kita apresiasi ya,” ujar dosen Universitas Al-Azhar itu.

Menurutnya, dalam rekonstruksi kematian Brigadir J itu sangat tidak masuk logika.

“Belum ada kebenaran, karena semuanya masih tidak logis. Yang rekonstruksi ini juga tidak dianggap sebagai sebuah kebenaran,” terangnya.

Ia mengatakan, bahwa polisi tidak memperlihatkan adegan merencanakan pembunuhan Brigadir J.

Kemudian bagaimana pelecehan seksual yang disebut-sebut dialami Putri Candrawathi oleh Brigadir J.

Padahal kedua rekonstruksi itu merupakan hal yang mendasar dalam kasus Brigadir J ini.

0 Komentar