Marak Kasus Street Crime, Komunitas Roda Dua Resah

Komunitas Street Ninja. (Dokumen for Jabar Ekspres)
Komunitas Street Ninja. (Dokumen for Jabar Ekspres)
0 Komentar

BANDUNG – Kasus kejahatan di jalanan Kota Bandung yang belakangan ini bermunculan, menciptakan iklim menakutkan bagi komunitas yang berkegiatan di ruang publik. Termasuk dirasakan oleh klub kendaraan roda dua, Street Ninja.

Klub dengan seluruh anggota yang mengendarai motor sport itu, mulai resah dengan kasus-kasus kejahatan jalanan atau street crime di Kota Kembang.

Ketua Umum Street Ninja, Muhammad Ghifari menyebut, bahkan kegiatan kopi darat (kopdar) alias nongkrong di pinggir jalan, sudah jarang dilakukan anggotanya.

Baca Juga:Warga Dago Elos Didera Putusan PKPesan Ridwan Kamil pada Sungai Aare: Aku Titipkan Jasad Anak Kami Kepadamu

Selain karena kekhawatiran mengalami tindak kejahatan, kini pihak kepolisian pun acapkali bergerak cepat membubarkan klub motor. Padahal masih jauh dari peraturan jam malam, yakni pukul 00.00 WIB.

“Sekarang sering ada pembubaran. Tapi, kan, itu tugas polisi untuk menjalankan tugas melindungi masyarakat,” ujar Gep, sapaan akrabnya, kepada Jabar Ekspres, Jumat (12/8).

Lantas, kata Gep, tugas kepolisian yang berupaya mencegah dan mengurangi kriminalitas itupun, tidak mendapat protes yang berlebihan dari klubnya. Mereka mewajarkan.

Lantas klub Street Ninja pun saat ini lebih memilih menarik diri. “Tidak nongkrong lagi di luar, sekarang berkumpul di rumah atau basecamp klub,” tegasnya.

Selain kegiatan kopdar yang terganggu akibat merebaknya kasus kriminalitas jalanan, Gep mengaku, tidak jarang stigma negatif pun mendera klub Street Ninja.

Menurutnya, sebagian masyarakat masih menganggap klub motor dan geng motor adalah hal yang sama.

“Sama aja, diangga pembuat onar atau melakukan aksi kriminalitas. Padahal semua enggak seperti itu,” imbuhnya.

Baca Juga:Dihadiri Masyarakat Umum dan Berbagai Komunitas, JQR Gelar Doa Bersama di Saparua untuk Keselamatan EmmerilKereta Cepat Jakarta-Bandung Setor Rp5,83 Triliun ke Penerimaan Negara

Kendati demikian, stigma negatif itu dibalas dengan kegiatan positif. Diantaranya seperti bakti sosial (baksos).

Lalu, pada bulan Ramadhan, klubnya pun berbagi takjil di jalanan. “Kami ingin memberi stigma positif bagi masyarakat. Kalau enggak semua klub motor itu kriminal,” jelasnya.

“Dan perlu digarisbawahi kalau Street Ninja itu bukan geng motor, tapi klub motor. Berkumpul karena satu hobi,” tambahnya.

Kendati demikian, pihaknya bergeming dan tidak mengalami kekhawatiran soal kriminalitas di jalanan tersebut.

Menurut Gep, aksi kejahatan bisa terjadi lantaran ada kesempatan. “Kalau ketakutan tidak ada, karena begal enggak berani membegal yang lagi rombongan,” tuturnya.

0 Komentar