Alih Fungsi Guna, Sebabkan Puluhan Hektare Lahan di DAS Sungai Citarum Kritis

jabarekspres.com – Kawasan hutan lindung sebagai resapan dan penahan air hujan, saat ini banyak berubah menjadi lahan pertanian. Akibatnya lahan yang dulu hijau kini berubah menjadi gersang dan bisa disebut kawasan menuju kritis perlu perhatian.

Seperti yang terjadi di kawasan sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Cirasea pada DAS Sungai Citarum di Desa Nagrak, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Di kawasan tersebut, sedikitnya ada lahan seluas 30 hektare yang bisa disebut kritis dan perlu perhatian.

Kepala Desa Nagrak Suparman mengungkapkan, adanya lahan kritis terjadi karena adanya alih fungsi lahan dari kawasan hutan lindung menjadi lahan pertanian.

“Dari 729 hektare , 99 hektare lahan kategori hutan yang perlu dijaga kelestariannya. Saat ini 30 hektare masuk lahan kritis,” ungkapnya disela-sela kegiatan penanaman pohon dan pelatihan pembuatan pupuk organik padat dan cair di Ciparay, Kabupaten Bandung.

Dia acara yang digelar Sabtu-Minggu atau 13-14 Agustus 2022 tersebut, Suparman juga mengatakan jika konservasi lahan kritis harus terus dilakukan.

Salah satunya seperti yang dilakukan dikegiatan kali ini. Yaitu penanaman pohon produktif yang berfungsi menahan dan meresap air di lahan kritis. Sehingga dapat mencegah terjadinya longsor dan sedimentasi pada sungai.

“Makanya saya mengapresiasi kegiatan ini. Saya yakin pelaksanaan kegiatan ini bakal jadi cikal bakal warga mencintai lingkungan kembali,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sindang Heula, Ruhyat Alamsyah mengaku jika pelaksanaan program konservasi sudah berjalan sejak dulu. Bahkan, ada petani yang sudah menikmati dari hasil penanaman pohon kopi.

“Dari 1 hektare itu bisa ditanami sebanyak 4 ribu pohon kopi. Kalau diperkirakan satu kali panen bisa menghasilkan 3 kilogram kopi,” terangnya.

Ruhyat pun menyambut baik baik program konservasi yang saat ini gencar dilakukan. Terlebih saat ini konservasi banyak didukung oleh pemerintah dan semua stakeholder.

Salah satunya dukungan selalu diberikan oleh Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat dan juga Perum Jasa Tirta (PJT) II Jabar.

Dia pun berharap, program konservasi dan pelatihan pembuatan pupuk organik bisa meningkatkan kesadaran masyarakat menjaga lingkungan.

“Kalau tidak sama kita, sama siapa lagi. Maka saya selalu bilang pada warga mulai lah kembali mencintai lingkungan dari diri sendiri,” tandasnya.

Sementara itu, penanggungjawab kegiatan konservasi penanaman pohon dan pelatihan pembuatan pupuk organik padat dan cair, Daud Yusuf mengatakan kegiatan dilakukan dalam upaya mengembalikan dan memulihkan kondisi bumi yang mulai kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.