Nung mengaku, selama 2 tahun ke belakang penjualan oleh-olehnya sangat sepi pembeli, sebab adanya aturan larangan mudik Lebaran serta Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh pemerintah.
Kendati demikian, Nung tetap bersabar dan berusaha menjual dagangannya dengan harapan pandemi Covid-19 dapat secepatnya selesai.
“Waktu lebaran kemarin-kemarin (2020-2021) penjualan sepi banget, malahan saya satu hari buat dapet Rp50 ribu (rupiah) aja susah,” imbuh Nung.
Baca Juga:Pengusaha Wajib Berikan Upah Lembur untuk Para Pekerja yang Masuk Saat Hari Libur NasionalBocah 13 Tahun yang Hanyut Terseret Banjir Bandang di Desa Citengah Sumedang Belum Ditemukan
Setelah pemerintah menilai penyebaran virus Covid-19 tidak terlalu liar, masyarakat pun diperbolehkan kembali melakukan tradisi mudik pada Lebaran 2022.
Momentum yang kerap ditunggu-tunggu itu kini kembali terasa. Masyarakat berbondong-bondong berbelanja, melakukan perjalanan mudik hingga membeli oleh-oleh untuk keluarga di kampung halaman.
Karenanya, Nung berujar, dibolehkannya masyarakat melakukan mudik Lebaran tahun ini dirasa sebagai angin segar bagi para pedagang oleh-oleh.
“Sekarang alhamdulillah penjualan ramai, gak kayak Lebaran tahun kemarin sepi. Kalau dihitung sekarang bisa dapet sampai Rp2 atau Rp3 juta (rupiah),” papar Nung yang kembali berdiri dengan senyum bahagia menyambut pembeli.
Nung menjelaskan, penghasilan mencapai Rp3 juta rupiah itu dia hitung sebagai hasil bersih dari penjualan oleh-oleh dalam kurun waktu satu malam alias tak mencapai 24 jam.
“Kalau sehari full 24 jam itu (penghasilan) lebih berarti dapetnya, Rp2 sampai Rp3 juta (rupiah) itu semalem, siangnya beda lagi,” tutur Nung.
Menurutnya, penjualan oleh-oleh pada momentum Hari Raya Idul Fitri ketika masyarakat berbondong-bondong mudik, dinilai lebih ramai ketika malam dibandingkan siang hari.
Baca Juga:Kendaraan Luar Kota Dominasi Jalur Cadas Pangeran, Kasat Lantas Polres Sumedang Beri ImbauanViral Video Seorang Pria Injak Al Quran dan Tantang Semua Umat Muslim
“Saya jaga 24 jam di sini (warung oleh-oleh) kadang gantian dengan anak. Kalau ramainya itu setiap malem,” kata Nung.
Sementara itu, tak jauh dari warung oleh-oleh milik Nung, salah seorang pedagang lain bernama Hasanah (50) kelahiran asal Garut yang kini menjadi warga Desa Nagreg, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung mengatakan hal yang sama.
“Alhamdulillah ibu bersyukur pemerintah membolehkan lagi mudik. Ibu jualan jadi seneng pasti, soalnya rame pembeli,” ucap Hasanah dengan baju serba merah kepada Jabar Ekspres.
Hasanah menilai, para pemudik yang berbelanja oleh-oleh kerap mencari dan membeli peuyeum serta ubi untuk dibawa ke kampung halaman.
