BANDUNG – Melanjutkan ke sekolah negeri merupakan tujuan utama para orang tua untuk menyekolahkan anaknya.
Ketua Ombusman Jawa Barat Dan Satriana mengatakan, pola pikir orang tua saat ini, masih cenderung menginginkan anaknya melanjutkan ke sekolah negeri.
Padahal, persepsi ini merupakan kekeliruan. Hal ini disebabkan standarisasi sekolah antara negeri dan swasta masih timpang.
Baca Juga:Larissa Chou Ungkap Alasan Sebenarnya Ingin Cerai dari Alvin FaizBappenas: Sampah Makanan di Indonesia Bisa Capai 112 Juta Ton Per Tahun
‘’Persepsi masyarakat sejauh ini masih keliru soal pemilihan tempat belajar formal bagi anak. Seharusnya, kriteria pemilihan sekolah berdasarkan apakah sudah standar nasional atau belum,’’tutur Dan Satriana kepada waratawan di Bandung, rabu, (9/6)
Ombusman menilai, seharusnya yang dibedakan standarisasi sekolah merujuk kepada kriteria sekolah standar nasional. Bukan dengan istilah sekolah negeri atau sekolah swasta.
‘’Jadi kalau belum bisa mencapai standar nasional itu urusan pemerintah. Pemerintah harus membiayai itu,” cetus Dan Satriana.
Cara berpikir para orang tua kemudian menghasilkan stigma. Bahwa sekolah negeri sudah pasti bagus. Artinya, mirip dengan rumah sakit yang memiliki kelas pelayanan.
“Itu dalam UU boleh dalam pelayanan publik tarafnya berjenjang. Ada kelas satu, dua, tiga. tapi pemerintah itu bertanggung jawab untuk membiayai semua kelas tiga,” katanya.
Di samping itu, Ketua SMA 20 bandung Yeni Gantini, berpandangan bahwa tidak menjadi persoalan apabila sekolah negeri atau swasta menjadi tempat belajar siswa.
Menurutnya, para orang tua di luar negeri lebih bangga apabila bersekolah di swasta. Namun, tinggal bagaimana sekolah swasta yang belum mencapai standarisasi nasional bisa meningkatkan kualitasnya.
Baca Juga:Peringati May Day, Pemkab Bandung Gelar BaksosSebabkan Macet, Dishub Jaring Puluhan Kendaraan yang Terparkir Liar
‘’Mereka harus mengejar barangkali supaya masyarakat nanti akan mengacu pada jargon bahwa, sekolah di mana saja sama,” ucap dia. (mg1/yan)
