Petani Desa Genteng Kabupaten Sumedang Keluhkan Dampak Pandemi Covid-19 Bagi Hasil Panennya

Petani Desa Genteng Kabupaten Sumedang Keluhkan Dampak Pandemi Covid-19 Bagi Hasil Panennya
Petani di Desa Genteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang, Jajang Sunendar saat menanam bibit tanaman sayur kol ( Foto : Jabar Ekspres/Yanuar)
0 Komentar

SUMEDANG – Para petani di Desa Genteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang keluhkan dampak pandemi Covid-19.

Pasalnya akibat penyebaran virus Covid-19 yang hingga kini masih meningkat, perekonomian para petani di Desa Genteng mengalami penurunan.

Menurut pengakuan para petani di Desa Genteng, salah satunya Jajang Sunendar (49) mengungkapkan bahwa penurunan tersebut karena sulitnya melakukan pengiriman hasil panen karena terhalang oleh Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di beberapa titik khususnya di perbatasan kota.

Baca Juga:Edhy Prabowo Siap Dihukum Mati, Begini Respon KPKNetflix Tambah Fitur ‘Download’

“Sekarang pengirimannya susah, penjagaan ketat jadi gak bisa kayak dulu kalau keluar masuk kota ngirim barang,” kata Jajang saat diwawancarai di Desa Genteng Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang pada Senin (22/2/21).

Meskipun demikian, Jajang mengatakan bahwa ia memaklumi adanya penjagaan yang menjadikan pengiriman ke luar kota cukup sulit karena masih dalam masa pandemi Covid-19.

“Yah bapak juga ngerti, ini tujuannya baik, biar terkontrol, dan bapak juga maklumlah soalnya masih pandemi. Tapi ya gitu, dampaknya ke petani jadi menurun harga jual panennya,” ujarnya.

Penurunan harga jual panen menurut Jajang disebabkan karena hasil panen yang melimpah, sementara pembeli tidak banyak dan pengiriman barang ke luar kota yang dibatasi akibat PPKM.

Jajang juga menjelaskan bahwa untuk saat ini hasil panen dengan harga jual yang paling merosot adalah tomat.

“Tomat lagi turun. Sebelumnya masih di harga normal, kalau diitung per kilonya sih lima ribu (Rp 5.000) per kilo. Pas awal bulan Februari mulai turun, nah minggu kedua sampe sekarang harganya seribu lima ratus (Rp 1.500) per kilo,” tuturnya.

Jajang menjelaskan bahwa penurunan harga sebetulnya sudah biasa, memang siklusnya seperti itu, namun sampai penurunan harga saat ini cukup parah dan ia berharap agar penurunan harga tomat ini tidak panjang sampai ber bulan-bulan kedepan.

Baca Juga:Ariel NOAH Ternyata Suka Nyiksa TemannyaKeluarga Setia Dampingi Nissa Sabyan di Tengah Gosip Perselingkuhan

“Semoga gak panjang sih, yah maksimal awal bulan Maret atau akhir bulan Maret udah normal lagi,” imbuhnya.

Dalam pemaparannya, Jajang juga menuturkan bahwa ia berharap agar pandemi Covid-19 ini dapat segera berhenti penyebarannya.

“Pengennya Corona cepet pergi lah, cepet hilang, biar normal lagi, masyarakat biar gak takut pergi ke pasar, biar beli sayuran, makanannya sehat, tubuh juga jadi kuat,” pungkasnya. (Mg6/wan)

0 Komentar