Dosen ITB Cegah Stunting di Sumedang Lewat Board Game Edukatif

pencegahan stunting
Warga Desa Sukajaya, Kabupaten Sumedang antusias berdiskusi melalui board game edukasi pencegahan stunting bersama tim dosen SITH ITB, Kamis (23/7/2026).
0 Komentar

SUMEDANG – Dalam upaya menekan angka stunting di tingkat akar rumput, tim dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadirkan metode edukasi yang segar dan inovatif. Bertajuk “Pencegahan Stunting melalui Penguatan Kesiapan 3S: Siap Hamil, Siap Gizi, dan Siap Rawat”, kegiatan digelar di Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Kamis (23/7/2026).

Sekitar 50 peserta antusias mengikuti acara tersebut. Mereka terdiri dari pasangan suami-istri muda, calon pengantin, serta warga setempat yang peduli dengan kesehatan generasi mendatang. Berbeda dengan penyuluhan konvensional yang kerap monoton, kegiatan ini mengusung pendekatan interaktif melalui board game edukatif yang dirancang khusus untuk mendorong diskusi aktif dan pemahaman mendalam.

Kegiatan dipandu Dr. Antonius Christanto. Peserta kemudian dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang didampingi fasilitator berpengalaman: Prof. Tjandra Anggraeni, Prof. Marselina Irasonia Tan, Dr. Indra Wibowo, Dr. Lulu Lusianti Fitri, Dr. Noviana Vanawati, serta didukung mahasiswa SITH ITB. Pendekatan kelompok kecil ini membuka ruang interaksi yang lebih intens, sehingga pertanyaan dan pengalaman pribadi warga bisa dibahas secara terbuka dan solutif.

Baca Juga:Sinergi BPJS Ketenagakerjaan dan JAMDATUN Perkuat Perlindungan Pekerja IndonesiaProf. Ricky: Pelantikan Gubernur URI Pukulan Telak bagi PTS

Melalui permainan, peserta dihadapkan pada berbagai skenario kehidupan nyata, pertanyaan tantangan, dan kartu informasi yang menyentuh isu krusial. Mulai dari kesehatan prakonsepsi, pentingnya gizi seimbang sebelum dan selama kehamilan, pencegahan anemia, konsumsi protein hewani, hingga pemahaman mendalam tentang 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai periode emas tumbuh kembang anak. Setiap keputusan dalam permainan mencerminkan dampak nyata terhadap risiko stunting.

Suasana kegiatan langsung hidup. Diskusi di setiap kelompok berlangsung hangat, penuh tawa sekaligus kesadaran baru. Peserta tak hanya mendengar, tetapi juga saling bertukar pengalaman dan mencari solusi bersama. Model pembelajaran berbasis permainan ini terbukti jauh lebih komunikatif dan melekat dibandingkan metode ceramah satu arah.

Salah seorang peserta mengungkapkan, ia baru menyadari bahwa kebiasaan melewatkan sarapan secara rutin—baik pada calon ibu maupun anak—dapat menyebabkan defisiensi gizi kronis yang berujung pada stunting. “Selama ini kami tidak pernah berpikir sejauh itu. Ternyata hal sederhana sehari-hari sangat berpengaruh,” ujarnya.

0 Komentar