oleh

BOP MDT Diduga Disunat

CIANJUR – Gerakan Aku Geram dan Anti Korupsi (Gagak) ontrog kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Cianjur, kemarin (23/11). Kedatangan Gagak ke Kemenag ingin mempertanyakan adanya pungutan sebesar Rp 3 juta per Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) dari bantuan operasional Covid-19 senilai Rp 10 juta yang diberikan ke 1.200 DTA di Cianjur.

Dalam aksinya, mereka menuntut klarifikasi dugaan pemotongan dan Bantuan Operasional Pendidikan Madrasah Diniyah Takmiliyah (BOP MDT) oleh oknum Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Cianjur.

Akhirnya, pihak FKDT, Gagak, serta Kemenag Kabupaten Cianjur pun menggelar audiensi un­tuk menemukan solusi dari masalah ini. Namun, pihak Gagak kecewa karena tidak semua pihak hadir secara lengkap.

Ketua Gagak Kabupaten Cianjur, Tirta Jaya Pragusta mengatakan, Kepa­la Kemenag, Ketua FKDT Kecamatan dan kabupat­en tidak dihadirkan semua dalam audiensi tersebut. Maka pihaknya memutuskan untuk menyerahkan ke pen­egak hukum.

“Maka saya memutuskan untuk lebih baik kita serah­kan ke penegak hukum su­paya lebih jelas karena kita bukan untuk mengadili, tu­gas yang mengadili adalah aparat kepolisian dan ke­jaksaan,” kata dia kepada wartawan, kemarin (23/11).

Selain itu, ia mengaku akan melaporkan hal ini ke Keme­nag Pusat. Dalam tuntutan­nya, ia menduga ada indikasi madrasah diniyah fiktif atau diniyah yang sudah tidak ak­tif, namun masih menerima BOP MDT.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga