CILEUNYI – Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sampai saat ini masih banyak menemui kendala. Sebab, di daerah-daerah terpencil masih banyak ditemukan para siswa yang tidak memiliki Smartphone.
Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda melihat faktanya di satu sisi, pandemi Covid 19 masih merajalela, di sisi lain kegiatan belajar harus tetap berjalan.
Oleh karena itu, katanya, instrumen yang paling mungkin dilakukan adalah memperkuat program PJJ. Sehingga, dibutuhkan terobosan dan inovasi dari Kemendikbud terkait PJJ ini.
Baca Juga:ASN KBB yang Positif Covid-19 Tinggal 12 OrangPakai Sambal, Residivis Ini Rampas 17 Sepeda Motor dalam Setahun Terakhir
“Kami berharap Kemendikbud harus mendorong konten PJJ untuk secepatnya disesuaikan. Ini kan kontennya masih padat banget, tatap muka yang tidak bisa dilaksanakan di sekolah, begitu saja dibawa kedalam skema PJJ, itu yang tidak boleh,” ungkap Syaiful saat wawancara di Kecamatan Cileunyi, belum lama ini.
Syaiful mengatakan, hanya perlu satu kurikulum yaitu kurikulum darurat. Intinya, Semua guru dan sekolah, tidak boleh dipaksakan untuk memenuhi standar, seperti pada saat dalam kondisi normal.
Sehingga, kata Syaiful, baik sekolah maupun siswa tidak boleh dipaksakan. Selanjutnya, mengenai program subsidi kuota. Dimana, saat ini sudah ada 21 juta siswa dari 45 juta siswa, yang sudah menyetorkan nomor handphone untuk subsidi pulsa. Artinya, setengah siswa tidak bisa mengikuti PJJ.
“Ini adalah fakta di lapangan. Maka harus ada solusi. Kenapa yang menyetorkan hanya 21 juta, Artinya 24 juta, saya bayangkan hampir pasti engga punya smartphone. Karena, siswa yang tidak memberikan nomor telepon, berarti tidak ada gawainya,” katanya.
Lebih lanjut lagi Syaiful menjelaskan, bahwa program subsidi kuota saja tidak akan cukup. Menurutnya, harus ada skema baru lagi yaitu subsidi smartphone. Hal tersebut harus dilakukan, agar bisa efektif.
Sehingga, Syaiful memastikan, hingga tahun 2021, skema PJJ tetap harus dipakai oleh Kemendikbud. Pada level ini, pihaknya ingin Kemendikbud melaksanakan koordinasi dengan dinas dan sekolah.
“Saat ini, sekolah sudah mulai tutup kembali, karena orang tua dan pihak sekolah semakin ketakutan, yang kemaren ingin cepat-cepat masuk, sekarang udah ga usah, kita kembali saja. Orang tua sudah realitis,” tandasnya. (yul/yan)
