Irigasi Nagrog Tak Kunjung Diperbaiki

Irigasi Nagrog Tak Kunjung Diperbaiki
SERING RUGI: Endang di antara tanaman padinya yang mengalami kekeringan. Akibat Irigasi Nagrog tidak berfungsi baik, ratusan hektare sawah kesulitan pengairan. (ASEP NURDIN/ SUMEKS)
0 Komentar

Senada dikatakan Endang, 50, pemilik sawah di Blok Sawah Buah Desa Mekarjaya. Sejak hancurnya Irigasi Nagrog, dia nyaris kehilangan mata pencaharian.

Sebab, yang tadinya bisa mengolah sawahnya tiga kali dalam setahun, kini terpaksa harus menunggu musim penghujan, itu pun untung-untungan. “Seuseur na mah cilaka weh pak miceunan modal (lebih banyak celakanya pak, buang-buang modal saja),” ujarnya.

Namun sebagai petani sejati, Endang selalu menaruh harapan besar untuk meraup keuntungan setiap kali musim hujan tiba, kendati kerugian acap kali membayang-bayangi hidupnya. “Kumaha deui atuh pak, tatanen mah tos padamelan abdi, dikeureuyeuh weh (Mau bagaimana lagi, bercocok tanam sudah mata pencaharian saya, ya dijalani saja),” keluhnya.

Baca Juga:Bappenda Prediksi PAD Cimahi Turun Hingga 30%16 Guru di Cimahi Positif Covid-19

Selain Ede dan Endang, masih terdapat ribuan petani lain yang menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam padi dan kini mereka harus kehilangan mata pencaharian sejak 20 tahun silam.

Sementara Dinas Pertanian Kabupaten Sumedang yang membidangi masalah itu, menjawab tidak tahu-menahu persoalan tersebut, dengan dalih baru beberapa hari menjabat. “Kirang apal, abdi mah enggal pak,” kata Seksi Pengelolaan Lahan dan Air Bidang Sumber Daya Dinas Pertanian Kabupaten Sumedang Cucu Ditamiharja, SP ketika dihubungi Sumeks via telepon.

Bupati Harus Turun Tangan

Pemkab Sumedang seharusnya serius mengatasi masalah Irigasi Nagrog, yang hingga saat ini seakan tak berujung.

Padahal, ada ribuan masyarakat di tiga kecamatan, menggantungkan hidupnya dari hasil sawah. Selama 20 hidup terkapar, lantaran lahan sawah yang menjadi tumpuan hidupnya tak bisa ditanami padi.

“Seharusnya bupati turun tangan langsung mengecek proyek-proyek strategis seperti Irigasi Nagrog, yang manfaatnya langsung dapat dirasakan masyarakat,” kata Peneliti senior Forum Indonesia untuk Transparansi

Nandang Suherman kepada Sumeks.Anggaran (Fitra) Jawa Barat,

Karena, kata dia, tujuan utama dari pembangunan sarana irigasi itu, untuk mengalirkan air ke lahan pesawahan. “Kalau irigasinya rusak, maka airnya akan bocor, kalau airnya bocor maka tidak akan bisa mengalir ke sawah, kalau sawahnya kering, maka akan menurunkan hasil produksi. Dampaknya petani pasti merugi,” tuturnya.

Apalagi jika memang sawah tersebut benar-benar tidak bisa ditanami padi lagi, maka akan berimbas terhadap angka kemiskinan. “Misal, biasanya bercocok tanam setahun dua sampai tiga kali, karena irigasinya bocor, pada akhirnya bisa bercocok tanam setahun sekali juga sudah untung,” katanya.

0 Komentar