SUMEDANG – Pengamat Sosial Dyah Gusrayani berpendapat, kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sumedang dinilai masih belum merata. Upaya untuk pemerataan itu, dibutuhkan tiga pilar, yang satu sama lainnya saling berkaitan. Ketiga pilar itu, kata dia, berupa individu, masyarakat dan pemerintah.
”Pertama, individunya sendiri harus memiliki etos kerja yang tinggi serta instropeksi diri. Misalnya, saya miskin teh apa memang sudah berusaha tetapi memang lapangan kerja tidak ada? Apalagi di masa pandemi Covid 19 ini. Atau memang sebenarnya yang bersangkutan itu memiliki mental miskin?” katanya, baru-baru ini.
Dyah mencontohkan, kebiasaan sejumlah orang mendatangi saudaranya yang dinilai mampu, hanya untuk meminjam uang saja. Sementara ketika ada pekerjaan yang berpotensi untuk mendapatkan upah dari sodaranya itu, yang bersangkutan tidak pernah menampakan batang hidungnya. ”Menurut saya, yang bersangkutan memiliki mental miskin dan menciptakan kemiskinan untuk dirinya sendiri,” ujarnya.
Baca Juga:Fabiano Beltrame Siap Bimbing Para Pemain MudaKorupsi Rp2,7 M, Oknum Kepsek Dihukum 20 Hari
Yang kedua, masyarakat. Menurutnya, kepekaan masyarakat saat ini terhadap sesama, dinilai sudah menipis. ”Di tengah yang lain kesulitan untuk sekedar cari makan saja, masih ada yang dengan percaya dirinya mengenakan perhiasan atau memakai barang-barang mewah,” ujarnya.
Ketiga pemerintah. Banyak program sosial yang sifatnya booming namun tak berkelanjutan atau dalam bahasa sundanya “Gebrag Tumila”. ”Ketika masyarakat yang benar-benar miskin diunggah di media sosial, baru pemerintah ramai-ramai menyalurkan bantuan,” ujarnya.
Sementara ketika kemiskinan itu tidak muncul di medsos, sebut Dyah, pemerintah tenang-tenang saja. ”Padahal ada dinasnya yang menangani masalah itu,” katanya.
Ironisnya lagi, kata Dyah, ada salahsatu dinas yang tidak mengetahui data base jumlah masyarakat miskin. ”Di Sumedang, ada enggak jumlah masyarakat miskin, berapa orang?,” kata Dyah mencontohkan pentaannya pada saat dia berkunjung ka salahsatu kantor dinas. (nur)
