Saat itu, masih belum banyak warga yang tidur. Entah bercengkerama dengan keluarga di rumah atau bersilaturahmi ke tetangga. Anak-anak pun kebanyakan masih main atau menonton televisi.
’’Saya panik, kok tiba-tiba ada bau menyengat yang membuat hidung terasa nggak enak, tenggorokan panas, sesak napas, bahkan pusing dan mual-mual. Tetangga saya ada yang sampai muntah,’’ kenang Indriyani.
Insting mendorongnya untuk segera berlari sejauh-jauhnya. Sambil menggendong anak. ’’Suami saya tinggal karena mengunci pintu rumah,’’ kata Yani, sapaan akrabnya.
Baca Juga:Hidupkan Lagi Peran Karang TarunaWarga di Bantaran Citarum Harus Memiliki Kesadaran
Sesampai di jalan raya yang menjadi akses wisata ke Kawah Ijen, ternyata sudah banyak orang yang sama-sama panik. Maklum, bau belerang amat menyengat. Beberapa bahkan sampai digendong dan sudah tak kuasa bergerak.
’’Saat itu nggak ada yang bisa memastikan telah terjadi apa dan korbannya berapa,’’ tutur Yani.
Untung ada beberapa warga yang bisa menelepon keluarga yang tinggal di Sempol, pusat Kecamatan Ijen. Baru kemudian ada jemputan untuk membawa warga ke Puskesmas Ijen yang berjarak 8 kilometer.
Pusat Kecamatan Ijen yang berada di sekitar Puskesmas Ijen pun mendadak ramai pada Rabu malam itu. Yang lemas dibawa masuk untuk diperiksa. Yang masih cukup fit atau sudah agak hilang efek gas beracunnya mencari tempat beristirahat.
Pusat Kecamatan Ijen pun jadi pusat evakuasi ratusan warga dari keempat dusun yang terdampak gas beracun tersebut. Sebagian memilih mengungsi di masjid dan mapolsek. Sebagian yang lain di koramil dan kantor kecamatan. Ada pula yang menumpang di rumah-rumah warga yang dikenal para korban.
Dampak gas beracun itu juga dirasakan para penambang belerang Kawah Ijen di kawasan Banyuwangi. Pos penimbangan belerang yang berjarak sekitar 100 meter sebelum Paltuding tak ubahnya jadi perkampungan mati.
Tidak ada canda tawa dan gemeretuk bunyi belerang yang tengah ditimbang. Deretan troli yang biasa digunakan para penambang untuk mengangkut belerang dan wisatawan digeletakkan begitu saja di sekitar pohon dan gubuk.
Baca Juga:Jalan Inspeksi Butuh Perbaikan SegeraPemkab Lakukan Peningkatan Sanitasi
Bambang Hadi, ketua badan usaha milik desa (BUMDes) Tamansari, menyatakan, para penambang balik ke rumah setelah BKSDA menutup aktivitas di radius satu kilometer di sekitar kawah. Tamansari merupakan kawasan di mana kebanyakan penambang belerang berasal.
