’’Kalau dari Kecamatan Licin saja, ada sekitar 250 orang penambang. Mulai Kamis lalu (22/3) mereka sudah kembali ke rumah, tidak menambang lagi,’’ kata Bambang.
Menurut dia, informasi mengenai munculnya gas beracun mulai merebak pada Rabu sore. Dari informasi salah satu penambang yang bercerita kepadanya, gas beracun itu kali pertama menyerang petani kubis.
Salah seorang petani yang hendak pulang dari ladang tiba-tiba pingsan. Petani lain yang akan menolong ternyata juga ikut pingsan. Baru kemudian informasi menyebar. Petugas BKSDA lantas melakukan peninjauan dan terbukti ada gas beracun yang tengah keluar dari Kawah Ijen.
Baca Juga:Hidupkan Lagi Peran Karang TarunaWarga di Bantaran Citarum Harus Memiliki Kesadaran
Saini mengaku ketinggalan berita. Empat hari sebelum kejadian Rabu malam lalu, dia tidak menambang karena mengikuti acara keluarga. Begitu balik, dia langsung berangkat.
’’Sampai sini tidak ada orang ternyata. Saya juga tidak tahu kalau kawah ditutup,’’ ujar pria asal Desa Tlemung, Banyuwangi, yang sudah tujuh tahun menambang belerang itu.
Tapi, seandainya benar-benar dilarang, Saini juga tak khawatir. Di tempat tinggalnya, dia juga memiliki pekerjaan lain sebagai petani.
Berdasar data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang disampaikan BPBD Bondowoso, pada Rabu malam itu terjadi tiga kali letusan di Kawah Ijen. ’’Letupan itu disebut letupan freatik,’’ ujar Winarto, kepala bidang kebencanaan dan kesiapsiagaan BPBD Bondowoso.
Letupan freatik terjadi akibat adanya uap air bertekanan tinggi. Uap air tersebut terbentuk seiring dengan pemanasan air bawah tanah atau air hujan yang meresap ke dalam tanah di dalam kawah. Yang kemudian mengalami kontak langsung dengan magma. ’’Ketika ada letusan freatik, akan timbul asap, abu, dan bahkan material,’’ jelasnya.
Heri menambahkan, selama musim hujan dimulai pada November 2017, air danau di Kawah Ijen bertambah 3 juta meter kubik. Dengan kedalaman lebih dari 180 meter. Hal itu turut memicu ketidakstabilan gas di kawah.
Meski sudah ditutup, Sony, salah seorang petugas BKSDA yang berjaga, mengungkapkan, masih ada saja satu dua tour guide dan turis yang menurutnya meminta diizinkan untuk mendaki. ’’Tapi, kami tak mau ambil risiko. Jadi, tetap melarangnya,’’ tegasnya. (hud/her/hdi/aif/c5/ttg)
