JAKARTA – Kasus pembobolan ATM dengan mencuri data kartu atau skimming mengancam reputasi perbankan. Perbankan harus melakukan upaya mitigasi secepatnya sehingga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan utama itu pulih.
Project Consultant Asian Development Bank (ADB) Eric Sugandi menuturkan, dampak jangka pendek terkait dengan kasus skimming adalah meningkatkan risiko reputasi (reputational risk).
Hal tersebut harus menjadi perhatian bank yang sedang memerangi skimming dan bank-bank lain sehingga peristiwa serupa tidak terulang. ”Kepercayaan nasabah bisa pulih atau malah menurun, semua bergantung pada seberapa cepat bank memitigasi kejadian ini,” tegasnya di Jakarta kemarin.
Baca Juga:AHY Lakukan Safari PolitikAntisipasi Terjadi Banjir Warga Buat Tanggul
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Agusman Zainal menambahkan, terkait dengan kasus skimming, pihaknya telah meminta perbankan meningkatkan aspek keamanan kartu debit maupun kredit yang digunakan. Salah satu yang dianjurkan BI adalah penggunaan kartu berbasis chip. Sebab, hal tersebut telah diatur dalam ketentuan BI tentang National Standard Indonesia Chip Card Specification (NSICCS).
Sebagai informasi, penerapan kartu chip dilakukan bertahap. Pada 2018, targetnya hanya 30 persen. Tahun depan meningkat menjadi 50 persen. Tahun 2020 menjadi 80 persen. Lalu, baru pada 2020 seluruh kartu nasabah bank diharuskan berbasis chip hingga 100 persen.
Agusman menekankan, di samping imbauan untuk segera menerapkan penggunaan chip tersebut, BI juga telah menindaklanjuti laporan tentang kasus itu dengan melakukan pemanggilan terhadap pihak-pihak penerbit kartu.
Namun, dia belum bersedia menyebutkan dengan detail jumlah pihak yang dipanggil. ”Dari pertemuan itu, kami minta mereka melakukan langkah-langkah perbaikan dan itu harus dilakukan terus-menerus,” tegasnya saat dihubungi koran ini kemarin.
Sementara itu, Direktur Digital BRI Indra Utoyo mengakui, BRI telah mendeteksi bahwa automated teller machine (ATM) di 300 titik berpotensi terkena skimmer. BRI pun segera meningkatkan keamanan pada mesin-mesin ATM tersebut dengan memasang alat anti-skimmer yang lebih canggih. Alat yang lebih canggih itu juga akan dipasang di semua mesin ATM BRI.
Saat ini BRI telah men-default setting (format ulang) semua kartu ATM Simpedes sehingga tidak bisa ditransaksikan dari luar negeri. Indra menyebutkan, ada sekitar 35 juta kartu yang layanan transaksi luar negerinya dinonaktifkan.
