oleh

Setnov Siap Beber Aktor Utama

JAKARTA – Jalan Setya Novanto (Setnov) yang mengajukan diri sebagai justice collaborator (JC) belum mulus. Sampai saat ini, mantan ketua DPR itu tetap tidak mau mengakui perbuatan yang didakwakan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebaliknya, kubu Setnov justru terus mencari cara agar bisa dianulir dari dugaan sebagai aktor utama korupsi e-KTP.

Setelah mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Partai Demokrat, kini kubu Setnov menyebut mantan Mendagri Gamawan Fauzi sebagai pihak yang se­harusnya paling bertanggung jawab. ”Ibarat teori anak tangga, ini beban berat buat menteri dalam negeri saat itu (Gamawan Fauzi),” kata Firman Wijaya, penasihat hukum Setnov kemarin (28/1).

Firman menyatakan, klien­nya merupakan bagian kecil dalam korupsi e-KTP yang merugikan keuangan negara Rp 2,3 triliun itu. Korupsi itu dinilai Firman sebagai scan­dal crime high level policy. Terkait indikasi penerimaan uang USD 7,3 juta dan jam tangan Richard Mille seharga USD 135 ribu, Firman me­nyatakan, sampai saat ini tidak ada hubungannya dengan Setnov.

Dia akan membuktikan ba­hwa dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) KPK itu tidak benar. Meski tetap berkelit, kubu Setnov optimistis peng­ajuan JC bakal mendapat restu KPK. Menurut Firman, kliennya saat ini sedang men­desain pihak-pihak yang di­duga terkait dan memiliki peran lebih sentral dalam korupsi e-KTP tahun angga­ran 2011-2012 tersebut. ”Pak Novanto sedang mendesain, itu yang tahu kan beliau (Set­nov) dan terus berkoordi­nasi dengan KPK,” akunya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga