Menapaktilasi Inspirasi Bunda Teresa di Mother House

Menapaktilasi Inspirasi Bunda Teresa di Mother House
DEBORA SITANGGANG/JAWA POS
MENGILHAMI: Para relawan berkumpul untuk sarapan seusai misa pagi dan bersiap-siap untuk melakukan pelayanan sosial.
0 Komentar

Hari itu mereka terlihat manis dengan baju pesta warna emas dan jaket bulu-bulu. Mereka memang sedang bersiap nonton pertunjukan sulap.

Salah satu toko pakaian di dekat Nirmala Shishu Bhavan mengundang anak-anak tersebut dalam rangka Natal. Tentu repot kalau satu atau dua masi harus membawa banyak anak. Kami para volunteer pun ikut mengantar mereka.

Jangan bayangkan karyawisata anak-anak dengan naik bus. Anak-anak Nirmala Shishu Bhavan jalan kaki untuk merayakan Natal. Memang tempatnya tidak jauh.

Baca Juga:Koalisi Sajajar Masih Terbuka untuk Semua PartaiPemda Harus Tegas di Izin Bangunan

Tapi, dengan jumlah pengantar hanya empat orang, sebagian terpaksa tidak tergandeng. Untung, mereka sudah akrab dengan lingkungan sekitar. Berjalan di antara trotoar yang becek dan naik turun.

Bahkan, sesampai di tempat acara, anak-anak tersebut harus naik tangga sendiri lewat tangga darurat. Sebab, pintu depan toko belum dibuka. Tapi, anak-anak itu tidak rewel minta digendong.

Tantangan terbesar ketika merawat anak-anak tersebut adalah saat mereka ramai dan mulai bertindak kasar. Tidak jarang mereka saling pukul saat berebut mainan, tunggu sampai ada yang menangis.

Tapi, semua relawan tahu, itulah tantangan untuk menapaktilasi spirit Bunda Teresa. Bagaimana bekerja secara ikhlas, tanpa mengharap apa pun, di hadapan segunung persoalan.

Bunda Teresa memulai kerja kemanusiaannya untuk kaum papa pada 1948. Diawali dengan belajar pertolongan dasar medis dan kemudian terjun ke tengah kawasan warga miskin.

Perempuan yang meninggal di usia 87 tahun pada 1997 itu kemudian mendapat bantuan dari sekumpulan perempuan muda. Dari sana kerja kemanusiaan Nobelis Perdamaian 1979 tersebut berkembang jadi komunitas yang bergerak mengulurkan bantuan dan kasih sayang kepada siapa saja yang membutuhkan.

Dua dekade setelah Bunda Teresa berpulang, Kalkuta tumbuh jadi metropolitan dengan jumlah penduduk ketiga terbesar di India. Sekaligus metropolitan dengan perekonomian paling produktif ketiga di negeri yang beribu kota di New Delhi tersebut.

Baca Juga:11 Mahasiswa STMIK Pamitran jadi Lulusan TerbaikAwal 2018, Pusat Akan Benahi Citarum

Tapi, kemiskinan dan kesemrawutan tetap gampang terlihat di banyak sudut kota yang berjuluk City of Joy itu. Dan, anak-anak di Nirmala Shishu Bhavan ini termasuk korbannya.

Tak punya orang tua, atau sengaja dititipkan oleh ayah dan ibu yang semestinya mengasuh membuat mereka sangat haus kasih sayang. Keaktifan, keakraban, dan juga ’’kenakalan’’ mereka, barangkali, bisa dibaca sebagai upaya untuk mendapatkan perhatian.

0 Komentar