Rumah Panggung Wujud 3 Dunia

Begitu pula dengan sistem pertahanan tanah. Sebab, kontur tanah berbentuk undak-undakan, dibuatlah tembok penahan tanah (TPT) yang terbuat dari tumpukan bebatuan.

Bebatuan tersebut tidak diplester. Namun asal tindih. Hanya saja, pemilihan batunya tidak asal. Melainkan batu diutamakan batu yang berbentuk gepeng. ”Meski tidak diplester, tapi tahan kuat. Dibuat oleh leluhur kami,” tegasnya.

Kehebatan lainnya dari sisi bangunan rumah. Bangunan rumah harus dibangun di atas permukaan tanah atau rumah panggung. Serta dibangun dengan saling berhadapan atau saling membelakangi. Memanjang dari barat ke timur dengan pintu rumah menghadap utara atau selatan.

Kondisi serupa juga berlaku pada rumah yang berdampingan. Sisi yang berdampingan adalah bagian yang sama dengan rumah di sebelahnya. Misalnya, bagian tepas (ruang tamu) suatu rumah akan berdampingan dengan bagian tepas rumah yang lain. Demikian pula posisi pawon (dapur) akan berdampingan pula dengan pawon pada bagian lain.

”Pembangunan rumah dilakukan sesuai dengan petunjuk dari leluhur dan tidak boleh melanggar dari ketentuan yang telah digariskan,” kata Munir, pupuhu lembur Kampung Naga.

Semua rumah di Kampung Naga harus panggung. Alasannya, semua itu merupakan perintah adat yang harus dipatuhi secara turun temurun. Kata Ade, masyarakat Sunda mengenal dunia itu dibagi menjadi tiga. Yaitu dunia bawah, tengah, dan atas. Tanah merupakan dunia bawah. Tempat kembalinya orang yang sudah mati.

Dunia atas merupakan tempatnya ruh, dan dunia tengah merupakan tempat makhluk yang masih hidup. Karena manusia merupakan makhluk yang masih hidup, maka mereka harus hidup di dunia tengah.

”Rumah panggung merupakan perwujudannya. Kolong (bagian bawah rumah) merupakan penggambaran dunia bawah, palupuh (lantai) merupakan penggambaran dunia tengah, dan lalangit/para (langit-langit) merupakan penggambaran dunia atas,” jelas Ade.

Rumah-rumah ini dibangun dengan menggunakan bahan bangunan yang berasal dari lingkungan setempat. Dibangun di atas permukaan tanah dengan ketinggian 45-65 sentimenter. Hal ini pun sudah menjadi ketentuan para leluhur. Tiang utama bangunan adalah kayu. Dinding bangunan berbahan bilik (anyaman bambu) yang dicat dengan kapur sehingga berwarna putih.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan