Sebelumnya, pada Sabtu (9/12) lalu, Yayasan Al Barokah, Paguyuban Motekar dan alumni ESA, menggelar diskusi pendidikan di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Melalui diskusi itu dibedah pokok-pokok pikiran dan jejak langkah Een Sukaesih dalam mengembangkan pendidikan berbasis kasih sayang.
“Sebelum haul kami sudah berdiskusi dengan para alumni ESA. Selain mentransformasi pikiran dan jejak langkah Sang Guru Qolbu, kesempatan tersebut kami manfaatkan untuk membangun komitmen bersama guna mensosialisasikan dan mendiseminasikan pendidikan berbasis kasih sayang ke segenap penjuru Jawa Barat. Teman-teman alumni ESA siap menjadi agen Guru Qolbu di daerahnya masing-masing,” kata Ketua Pembina Yayasan Al Barokah Herman Suryatman melalui sambungan telepon dari Jakarta, kemarin (13/12).
Herman mengatakan, di era digital dengan badai online-nya yang membuat tatanan sosial, terutama di dunia anak-anak, penuh dengan kerapuhan, ketidakpastian, kompleksitas dan ambiguitas, maka pendidikan berbasis kasih sayang bisa menjadi vaksin efektif bagi anak-anak. Tujuannya, agar anak anak memiliki imunitas tinggi dalam menghadapi badai online.
Baca Juga:Waspada Produk KadaluwarsaLSL Dominasi Pengidap HIV/AIDS
“Kami bersama para alumni ESA berkomitmen untuk terus menyemai pendidikan berbasis kasih sayang yang dicontohkan oleh Ibu Een Sukaesih. Ini adalah vaksinasi sosial yang akan menyelamatkan anak-anak kita dari dampak negatif badai online. Jangan sampai orang tua dan guru dalam mendidik anak-anak tersisih oleh teknologi. Kita harus taklukan badai online dengan pendidikan berbasis kasih sayang. Mari kita sirami anak-anak dengan kasih sayang, baik di sekolah, di rumah maupun di lingkungan masyarakat,” pungkas Herman. (atp)
