Mengunjungi Desa-Desa ”Hantu” di Sekitar Sinabung

Mengunjungi Desa-Desa ”Hantu” di Sekitar Sinabung
0 Komentar

Ketika Jawa Pos ke Sukanalu, Sinabung bisa dibilang tengah dalam kondisi tenang, Namun, gunung satu itu tidak bisa diprediksi. Bisa meletus sewaktu-waktu.

Menyusuri jalan kampung semakin ke selatan, rumah-rumah sudah mulai jarang. Di depan hanya ada rumput dan ilalang. Donny bercerita, di balik rerimbunan ada sebuah bendungan yang tidak sengaja membentuk danau karena aliran lahar.

Kalau melihat Sinabung dari arah Kabanjahe atau Berastagi, akan tampak jalur luncur utama lahar yang berbentuk seperti ular berwarna hitam. Meliuk sampai ke mulut kawah. Bendungan di depan kami tepat berada tegak lurus dengan lidah ular tersebut. Kami memutuskan untuk tidak meneruskan langkah. Kemungkinan kabur jika sewaktu-waktu ada letusan bisa sangat tipis.

Baca Juga:DPC PPP Langsung MenuntutLebih dari Rp1,5 Triliun untuk BIJB

Donny mengungkapkan, petugas BPBD bahkan tidak berani berlama-lama di situ. Kalau sewaktu-waktu muntahan awan panas keluar dari kawah, orang bisa celaka. Kecepatan rata-rata awan panas mencapai 3.000 km per jam. Pakai Ferrari pun tidak mungkin lolos.

Putar balik, kami kembali masuk ke perkampungan. Ada suara datang dari kejauhan. Kali ini memang benar-benar manusia. Seorang bapak berusia 50-an tahun datang dengan sepeda motornya. Kami bertegur sapa. Namanya Agus Sembiring Melalah. Dia datang ke Sukanalu karena ingin menengok rumahnya.

Rumah Agus terletak tepat di belakang balai desa. Berbeda dengan rumah lain yang jendela dan pintunya dibiarkan menganga, Agus masih mengunci rapat pintu rumahnya. Dia mempersilakan kami masuk. Perabotan dalam rumah masih utuh. Ada lemari, kasur, kereta dorong, cangkul, dan alat-alat pertanian.

Sehari-hari Agus dan keluarganya tinggal di posko pengungsian Gereja Kabanjahe, ibu kota Kabupaten Karo. Sekali-sekali dia pergi ke Sukanalu untuk menengok rumahnya. Warga Sukanalu belum mendapatkan hunian tetap di Siosar.

Siosar dulunya area hutan yang lantas disulap menjadi kawasan penampungan pengungsi Sinabung. Di sana warga diberi bantuan uang sewa rumah dan lahan. ”Daripada buat sewa rumah baru,” kata Agus, lantas bergerak menuju tumpukan papan kayu di halaman rumahnya.

Agus mulai memindah-mindahkan kayu ke tempat yang lebih lapang dan sedikit ditumbuhi rumput. ”Kami bikin gubuk di ladang, buat tinggal sementara,” katanya sembari terus sibuk memindah-mindahkan kayu.

0 Komentar