JABAR EKSPRES – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, seperti Pertamax dan Pertamax Green, mendapat sorotan dari Pakar Ekonomi Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kartabi. Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi memicu efek domino yang dapat membebani perekonomian masyarakat.
Acuviarta, yang akrab disapa Acu, mengatakan kenaikan harga BBM nonsubsidi akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah yang selama ini menjadi konsumen Pertamax.
“Implikasi dari kenaikan ini tentu akan memberatkan, terutama kelompok masyarakat kelas menengah yang sebelumnya lebih banyak mengonsumsi Pertamax. Pada akhirnya, ada kemungkinan mereka beralih ke Pertalite yang merupakan BBM bersubsidi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (11/6/2026).
Baca Juga:Persetujuan POD Ronggolawe Dukung Strategi SAKA dalam Peningkatan ProduksiKekeringan Disertai Krisis Air Bersih Melanda Citeureup Bogor, 517 Jiwa Terdampak
Menurut Acu, dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi akan semakin terasa apabila pemerintah tidak segera mengambil langkah antisipatif. Salah satu konsekuensi yang dikhawatirkan adalah meningkatnya laju inflasi.
“Bensin merupakan salah satu komponen penyumbang inflasi. Di saat yang sama, masyarakat juga dihadapkan pada kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok sehingga kondisi ini semakin memberatkan,” katanya.
Ia menilai pemerintah perlu segera merumuskan kebijakan yang mampu menekan dampak kenaikan harga BBM terhadap masyarakat. Di sisi lain, Acu melihat pemerintah juga tengah menghadapi tantangan likuiditas.
“Indikasi pemerintah mengalami kesulitan likuiditas dapat dilihat dari kenaikan suku bunga surat utang pemerintah jangka pendek atau Surat Perbendaharaan Negara (SPN). Karena itu, pemerintah harus segera mencari solusi,” ungkapnya.
Acu juga menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi tidak terlepas dari kondisi global, terutama lonjakan harga minyak mentah dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah.
“Harga minyak dunia yang sebelumnya sekitar 70 dolar AS per barel kini rata-rata sudah mencapai 100 dolar AS per barel. Sementara asumsi nilai tukar rupiah yang digunakan sekitar Rp14.500 per dolar AS, saat ini berada di kisaran Rp15.000. Untuk membiayai impor kebutuhan BBM ke depan, Pertamina pada akhirnya harus melakukan penyesuaian harga,” jelasnya.
Lebih lanjut, Acu mengingatkan bahwa akumulasi kenaikan berbagai harga kebutuhan masyarakat dapat memberikan tekanan besar terhadap kondisi ekonomi rumah tangga.
