Ganang ingin masyarakat luas mengenal kakeknya tidak selalu dari sisi militer. Tapi, juga sosoknya sebagai manusia. Soedirman yang seorang guru ngaji, Soedirman yang Muhammadiyah, dan aktif di gerakan kepanduan Hizbul Wathan.
Soedirman yang tak lepas dari wudu, hobi puasa, Soedirman yang merokoknya kebas-kebus, dan Soedirman yang pencinta sepak bola. ”Saya pengin ada film Soedirman yang mengedepankan hal-hal itu,” kata Ganang.
Malah, Ganang berharap film Soedirman di masa depan dikemas dengan format animasi. Bukan film nyata seperti biasanya. Film animasi atau kartun tersebut kemudian disebar ke sekolah-sekolah untuk dikonsumsi para pelajar. ”Kalau kartun kan bisa lebih masuk ajaran dan teladan beliau pada anak-anak,” ungkapnya.
Baca Juga:Cetak Rekor Lap, Hamilton Rebut Pole F1 GP JepangLima Belas Klub Liga I Ancam Mogok
Meski semua orang berkata mirip sang kakek, Ganang tegas menyatakan tidak mau kalau disuruh membintangi film tentang Jenderal Soedirman. Bukan karena tidak punya bakat akting, tapi semata karena usia. ”Saya sudah 52 tahun, capek. Ini aja (HUT TNI, Red) karena saya menghormati panglima,” katanya.
Di luar sosoknya sebagai pemimpin pasukan perang, kata Ganang, Soedirman tetaplah seorang rakyat dan agamawan. Di akhir teatrikal, diceritakan pasukannya tengah bersembunyi dari kejaran Belanda di pedalaman Desa Sidayu, Gresik, Jawa Timur.
Seorang pengkhianat membuat pasukan Belanda mampu mengepung posisi gerilyawan Soedirman. Dengan tenang, Soedirman mengajak anak buahnya untuk berzikir bersama-sama.
Di tengah khusyuknya lantunan zikir, Soedirman memerintah beberapa orang kepercayaannya untuk memakai jas panjang miliknya. Saat si pengkhianat melaporkan posisi Soedirman, pasukan Belanda tidak percaya bahwa orang lusuh dan dekil di antara pasukan itu adalah seorang panglima.
Zikir dan strategi membuat Soedirman dan para gerilyawan selamat dari kepungan. Salah seorang anak buahnya bertanya apa jimat yang dikenakan Soedirman sehingga mampu selalu lolos dari mata pasukan Belanda.
Ganang yang memerankan Soedirman mengucapkan dengan lancar pesan paling berharga dari kakeknya tentang tiga jimat miliknya. ”Jimat saya ada tiga, pertama tidak lepas dari wudu, kedua selalu salat tepat waktu, dan yang ketiga, selalu melakukan sesuatu dengan ikhlas,” katanya sambil memegang punggung sang gerilyawan. (*/c10/ttg/rie)
