Piter membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk meyakinkan para petani Wamena. Sampai kemudian, tibalah panen pada tahun pertama setelah Piter mengucapkan janji tadi.
Piter menepati janjinya. Dia membeli kopi para petani. Harganya bahkan dinaikkan lima kali. ”Ketika itu harga kopi masih Rp 9.000, saya beli Rp 45.000,” bebernya.
Tentu saja para petani kaget. Dan, otomatis juga senang. Padahal, pada tahun pertama itu, masih ada kopi yang tidak bagus.
Baca Juga:Adjat: Satu Untuk Sebelas, Sebelas Untuk SatuPendaftaran CPNS Ditutup Pada 25 September 2017
Kepercayaan para petani kepada Piter kian tumbuh setelah dia tetap konsisten menepati janji pada tahun kedua. Efeknya pun berantai. Mendengar kabar bahwa ada yang mau membeli dengan harga mahal, banyak petani kopi dari pelosok Jayawijaya yang datang.
Yang paling diingat Piter adalah saat dirinya didatangi seorang nenek. Nenek tersebut menempuh jarak lebih dari 15 kilometer dari Wamena. Kopi digendongnya di kepala dengan menggunakan noken, tas khas Papua.
Begitu bertemu Piter, si nenek langsung duduk selonjoran di sampingnya. Dia tersenyum menyerahkan kopi yang dibawanya.
”Pak, kopi nenek basah,” kata Piter menirukan ucapan salah seorang karyawannya.
Kopi yang sudah dikeringkan lalu basah lagi tentu membuat kopi tak bisa diapa-apakan. ”Saya suruh pegawai untuk tetap angkut. Nenek itu pasti sudah mengharapkan akan mendapatkan uang,” tuturnya.
Walaupun kopi tersebut akan berisiko terkena jamur, Piter membelinya dengan tidak mengurangi harga. Biji kopi yang basah tersebut dihargai dengan harga yang sama dengan kopi yang bagus.
Setelah mendapatkan kepercayaan dari petani, Piter baru mengajari bagaimana merawat kebun kopi agar menghasilkan buah yang berkualitas. Juga, bagaimana memetik kopi.
Baca Juga:Kondisi AKN TerbengkalaiPKS Dirikan Crisis Center Rohingya
Harus buah yang berwarna merah yang dipetik. Cara pengupasan hingga pengeringan pun dia ajarkan.
Apa yang dilakukan Piter tentu tidak murah. Membeli banyak kopi yang belum tentu bagus bijinya, lalu mengangkutnya ke Jayapura. Padahal, yang tersedia hanya transportasi udara.
Kedekatan Piter dengan petani akhirnya bukan sebatas antara tengkulak dan petani. Piter yang keturunan Tionghoa itu sudah dianggap keluarga sendiri. Itu terbukti dengan diangkatnya dia menjadi anak adat di Distrik Walesi.
