Seiring berjalannya waktu, peminat sekolah barista bukan hanya anak-anak muda Wamena. Yang non-Papua juga banyak. Tapi, untuk kelompok terakhir itu, biasanya mereka dibiayai perusahaan masing-masing.
Di sekolah calon barista di kafenya itu, Piter mengajari para murid semua tahap untuk membuat kopi yang enak. Mulai memilih, menggoreng atau sangrai, hingga menyajikan. Ada manual brewing hingga yang menggunakan mesin.
Mes atau tempat tinggal pun dia sediakan. ”Kalau makan, mereka bisa ambil sendiri di kafe,” ujarnya.
Baca Juga:Adjat: Satu Untuk Sebelas, Sebelas Untuk SatuPendaftaran CPNS Ditutup Pada 25 September 2017
Nonyo termasuk yang beruntung merasakan itu semua. Bahkan, selain menjadi barista, selepas SMA nanti, dia akan dididik Piter menjadi pengusaha.
Sebab, dengan menjadi pengusaha, Nonyo bakal dituntut untuk juga memanusiakan stakeholder kopi dari hulu. Petani mesti digandeng. ”Tidak dalam hubungan dagang antara petani dan tengkulak. Melainkan sebagai subjek yang saling membutuhkan,” katanya. (*/c5/ttg/rie)
