Sri Wahyumi Maria Manalip, Srikandi Penjaga Tapal Batas Indonesia

Sri Wahyumi Maria Manalip, Srikandi Penjaga Tapal Batas Indonesia
0 Komentar

”Saya tidak boleh hanya diam di kantor, harus rajin turun ke masyarakat. Sekali­pun itu berarti mesti sering melakukan perjalanan laut yang tantangannya tidak ringan,” ujar Manalip.

Namun, Manalip mengaku tak pernah gentar dengan semua risiko itu. Perempuan yang pernah duduk sebagai anggota DPRD Talaud terse­but terus rajin menyambangi pulau-pulau yang masuk wi­layah yang dipimpin.

Tak terkecuali Miangas. Se­lama memimpin Talaud sejak 2013, sudah tak terhitung perjalanan laut yang dilakoni Manalip ke Miangas.

Baca Juga:Ratusan Pelajar Doakan Asep HilmanBupati Dedi Hantarkan Purwakarta ke Papan Atas

”Saya putri Talaud dan ke­tika amanah ini diberikan kepada saya, saya harus ja­lankan sebaik-baiknya. Talaud harus terus bergerak dan berkembang,” tegasnya.

Dia juga tak pernah segan keluar-masuk hutan. Mene­rabas jalan berlumpur dan menghadapi segala macam tuntutan warga. Sebagai ka­bupaten yang baru berusia 15 tahun, infrastruktur di Talaud memang belum se­penuhnya layak.

Masih banyak jalan yang tak beraspal alias berlumpur. Ja­dilah Manalip kerap menung­gang motor trail untuk melin­tasi rute yang tak ramah itu.

”Dan saat melintas itu sering bertemu aneka pohon yang ditanam di jalan tersebut,” katanya.

Menanam pohon itu meru­pakan bentuk protes warga kepada pemerintah atas kon­disi jalan di wilayah mereka. Tapi, Manalip mengaku tak pernah marah atau tersing­gung. Sebaliknya, justru se­makin membakar semangat­nya untuk menyerap aspi­rasi warga.

Dia memilih berbicara langs­ung dengan mereka. Menjelas­kan bahwa status jalan tidak semuanya milik kabupaten. Ada jalan provinsi, ada pula jalan nasional. Sesuatu yang tak semua warga memahaminya.

Termasuk menjelaskan pula bahwa anggaran yang dimiliki Talaud sangatlah ter­batas. Saat ini APBD Talaud ”hanya” Rp 800 miliar. Dan pendapatan asli daerah (PAD)-nya cuma Rp 16 miliar.

Baca Juga:Kapolri Copot Kapolda JabarPengedar Sabu Ditangkap

”Kepada masyarakat, saya selalu katakan bahwa tidak masalah mereka mau menanam pisang atau pohon lainnya di jalan. Yang penting tidak pasang bendera Filipina,” paparnya.

Tiap kali beraudiensi dengan warga, perempuan yang nama depannya merupakan pem­berian dua tentara asal Jawa tersebut juga selalu terbuka memaparkan apa saja renca­nanya. Sekaligus solusi per­soalan yang dihadapi.

0 Komentar