Enci, alumnus Akademi Keperawatan (Akper) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kendari itu, mengaku dirinya dan rekan-rekan sebenarnya sudah mengajukan surat ke bupati. Agar mereka bisa diangkat menjadi tenaga honorer yang digaji lewat APBD. ”Tapi, belum ada hasil sampai sekarang,” ujarnya.
Enci dan rekan-rekannya sadar, jumlah honor lewat APBD bakal tak seberapa. Namun, bagi mereka, itu sudah lebih dari lumayan. Setidaknya mengurangi beban pengeluaran yang mereka tanggung sendiri. ”Bekerja tanpa gaji sangat berat dan tak mudah. Namun, tekad saya untuk mengabdi dan mendapatkan pengalaman kerja begitu besar,” ucapnya.
Selain mengandalkan bantuan orang tua, beberapa pegawai tanpa gaji itu bekerja sampingan memanfaatkan kealihan di bidang lain. Atau di-support suami.
Baca Juga:Pansus Memutuskan Kembali ke Sistem PaketPKB Terendah, Hanura Tertinggi
Novianti Ansar, misalnya, dia memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan membiayai transportasinya pulang pergi ke Puskesmas Kambowa dengan menyisihkan gaji suami. ”Saya cari pengalaman. Kurang lebih 10 kilometer tiap hari saya tempuh untuk sampai ke puskesmas,” kata alumnus kampus Akademi Pelita Ibu Kendari tersebut.
Sementara itu, Asrida mengaku menerima order jahitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keterampilan itu dia dapatkan saat mengenyam pendidikan di sekolah kejuruan. ”Penghasilannya kecil, tapi lumayan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, saya masih mendapat bantuan orangtua kendati telah menyelesaikan studi,” ungkapnya.
Asrida mengatakan sering mendapat cibiran dari rekan-rekannya karena bekerja tanpa digaji. Tetapi, keiginan untuk mengabdi membuatnya bertahan.
Sebab, bagi dia, tak semua harus dinilai dengan gaji semata. ”Saya dididik sejak dini untuk bermanfaat bagi sesama,” tegas alumnus Stikes Baubau itu.
Seperti Asrida, Jumarni mengandalkan pemasukan dari membuka praktik di rumah. Berbekal kemampuan sebagai tenaga ahli madya kesehatan gigi. ”Saya membuka praktik membersihkan karang gigi dan mencabut gigi,” ujar Jumarni.
Kondisi 10 tenaga honorer tanpa gaji itu sangat ironis jika dikomparasikan dengan kondisi fisik Puskesmas Kambowa. Puskesmas tersebut terhitung bagus untuk ukuran sarana kesehatan di tingkat kecamatan. Tiga bangunan yang berdiri di area tersebut difungsikan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi warga yang sakit.
