Dikenal Turis Manca berkat Prestasi Kepala Desa

Dikenal Turis Manca berkat Prestasi Kepala Desa
JUNEKA SUBAIHUL/JAWA POS
TANGAN DINGIN OLEY: Franly Aprilano Oley, kepala Kampung Merabu, Kabupaten Berau, Kaltim. Berkat tangan dinginnya, kampung itu dikenal dunia. Dia sebelumnya dinobatkan sebagai kepala suku termuda.
0 Komentar

Hingga akhirnya garis nasib mengantarnya menjadi kepala kampung. Itu pun secara kebetulan. Sebab, sebetulnya dia tidak berniat menjadi kepala kampung. Dia hanya penggenap.

Hal tersebut terjadi lantaran calon yang memenuhi syarat hanya seorang. Padahal, pemilihan kepala kampung di daerah mayoritas suku Dayak Lebo itu tidak mungkin hanya menampilkan calon tunggal.

Dari situlah, berbekal ijazah SMK, dengan terpaksa Franly akhirnya mendaftarkan diri. Padahal, istri, mertua, dan orang tuanya berkeberatan lantaran Franly masih muda. ”Tapi, pertimbangannya waktu itu daripada nanti dijabat orang pemda karena tidak segera ada pemilihan, maka saya lalu maju dan tak disangka malah menang,” tutur dia.

Baca Juga:Cuci Darah Lebih Seribu Kali Untuk Mempertahankan HidupDinas: Bandung Tak Ada Anthrax

Setahun menjabat, Franly banyak belajar dari kepala kampung dua periode sebelumnya, Asrani. Mulai sistem birokrasi kampung hingga cara berkomunikasi dengan warga. Dia juga intens berdiskusi dengan tim TNC yang sudah lama menjadi pendamping masyarakat kampung tersebut.

Community Engagement and Protected Area Manager TNC Taufik Hidayat menilai Franly sebagai kepala kampung yang cerdas. Dia mengibaratkan Franly seperti batu akik yang sudah punya kualitas bagus, tinggal dipoles agar mengilat. ”Dia (Franly) mau belajar dengan cepat,” ujar Taufik.

Franly dan warga Merabu sangat beruntung memiliki hutan di belakang kampung. Dia lalu membentuk lembaga desa Kerima Puri yang bertugas mengelola hutan desa. Kini Kerima Puri akan diubah menjadi badan usaha milik desa.

”Pada 2012 kami usulkan 10 ribu hektare kawasan hutan di desa kami menjadi hutan lindung desa. Usulan itu terwujud pada 2014,” kata dia.

Luas Kampung Merabu sendiri sekitar 22 ribu hektare. Area seluas itu mencakup hutan hujan tropis hingga pegunungan karst. Masyarakat bisa memanfaatkan hutan tapi tidak boleh mengambil kayunya. Hanya boleh memanfaatkan hasil alam lainnya seperti madu hutan, rotan, sarang burung walet, dan usaha ekowisata.

Kebetulan di tengah hutan itu juga terdapat Danau Nyadeng yang begitu jernih airnya. Ada juga Gua Beloyot yang memiliki artefak prasejarah berupa jejak tapak tangan manusia purba di dinding gua. ”Kata peneliti, (jejak tangan, Red) itu peninggalan 4 ribu tahun silam,” jelas Franly.

0 Komentar