”Kami masih mendata berapa kerugian total. Tapi fokus kita saat ini adalah pencarian dan penanganan korban,” tegas dosen Universtias Pertahanan itu.
Diakuinya, wilayah Garut memang akrab dengan bencana hidrologi. Namun, menurutnya, bencana kali ini merupakan terbesar. Bencana terjadi dengan magnitude cukup besar hingga berhasil memporak-porandakan 7 kecamatan.
Buruknya DAS Sungai Cimanuk dinilai menjadi penyebab utama bencana banjir selalu berulang di Garut. Hal itu terlihat dari pengukuran besar koefisien regim sungai (KRS) Sunga Cimanuk yang mencapai 713. Padahal, untuk kategori baik, nilai KRS tidak melebihi angka 40. Sedangkan, ukuran cukup berada di antara 40-80.
Baca Juga:Yakin Rengkuh Juara UmumSerahkan Hadiah Langsung ke Pemenang
”Ini sudah sangat buruk. Bahkan lebih parah dari pada Citarum. Sedimennya juga luar biasa,” keluhnya. Selain Garut, bencana hidrologi juga menyerbu empat kabupaten lain di Jawa Barat. Yakni, Kabupaten Sumedang, Kuningan, Tasikmalaya dan Cianjur.
Di Sumedang, banjir dan longsor terjadi cukup parah. Longsor terjadi Dusun Ciherang, Ciguling, Singkup, Cimareme, Babakan Gunasari di Desa Ciherang, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang pada Selasa, pukul 22.00 Wib. Longsor mengakibatkan 3 orang tewas, 2 orang luka dan 1 orang masih dalam pencarian.
Untuk kerugian materil, tercatat 3 unit rumah rusak, 1 mushola hancur dan 200 rumah terdampak di Dusun Ciherang. Sementara, di Dusun Cimareme ada 2 unit rumah tertimbun dan 100 jiwa dievakuasi di Dusun Babakan Gunasari. ”Tim SAR Gabungan juga telah melakukan langkah penanganan. Pencarian pun masih terus dilakukan,” ungkapnya.
Melihat kondisi ini, Alumni Universitas Gajah Mada ini pun berpesan agar masyarakat terus waspada. Sebab, ancaman bencana hidrologi masih akan terjadi hingga awal tahun 2017. Apalagi, musim hujan yang saat ini datang lebih cepat karena pengaruh La Nina.
”BNPB sendiri baru saja memasang sistem early warning kembali. Ada 72 unit yang dipasang di beberapa lokasi,” tuturnya. Diakuinya, jumlah ini masih jauh dari kata cukup. Biaya yang cukup besar menjadi salah satu hambatan, apalagi saat ini BNPB juga mengalami pemotongan anggaran. ”Dana siap pakai Rp 2,5 triliun juga kena potongan Rp 200 juta. Tapi (pemasangan) akan tetap kita lakukan bertahap,” papar pria asli Boyolali itu.
