oleh

Dari Satu Indung Telur, Dialiri Darah yang Sama

Pria yang sebelas hari sebelumnya ditahbiskan sebagai imam di Ambon tersebut disambut seluruh keluarga besar. Yang memeluk Katolik, Protestan, maupun Islam sama-sama membuka tangan bagi pria yang telah 15 tahun berkelana untuk menempuh studi tersebut

Dari sudut pulau yang butuh 1,5 jam penerbangan untuk bisa dijangkau dari Ambon itu, foto kerukunan keluarga besar Johanes dalam penyambutan tersebut dengan segera menyebar. Menjadi viral di dunia maya.

Penyambutan saat itu sebenarnya lebih tertuju pada prosesi adat internal keluarga. Johanes meminta restu kepada seluruh keluarga untuk mengemban tugas melayani umat Katolik.

Para sesepuh keluarga pun memberi restu secara bersama-sama meski dilakukan berdasar keyakinan agama masing-masing. Restu tersebut merupakan bentuk kebanggaan keluarga besar karena salah seorang anak mereka menjadi pemimpin agama. ”Karena itu, sungguh saya tak menyangka acara itu akan mendunia,” kata pria kelahiran 8 November 1985 tersebut.

Mungkin karena di Tual, khususnya, dan Kepulauan Kei, umumnya, apa yang terjadi pada hari itu adalah bagian dari keseharian. Bukan sesuatu yang luar biasa. Semata memperlihatkan betapa kuatnya jalinan kekerabatan mereka. Tanpa memandang latar belakang.

Keluarga besar Johanes, seperti juga banyak keluarga di Kei, memang multiagama. Ayahnya yang berasal dari Ambon, Yusuf Wemay, merupakan penganut Protestan. Begitu pula kakak dan kedua adiknya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.