Menurut Ady, benteng Kedung Cowek itu merupakan benteng yang sengaja dibangun Belanda untuk melindungi pelabuhan Surabaya. Belanda membangun perlindungan untuk Kota Surabaya sejak era H.W. Daendels.
Surabaya dianggap sebagai kota paling strategis untuk pelabuhan. Bahkan, infrastruktur Angkatan Laut Belanda yang sebelumnya dibangun di Pulau Onrust (Kepulauan Seribu) pada 1888 dipindahkan ke Surabaya.
Menurut Ady, benteng-benteng pertahanan yang dibangun Belanda di Surabaya punya kemiripan dengan sebelas benteng di Singapura dan Normandia. Bedanya, di Singapura dan Normandia, pemerintah setempat dengan cerdas memanfaatkan peninggalan bersejarah itu sebagai destinasi wisata.
Baca Juga:Inspirasi Fashion dari InternetSidang Putusan Gotas Ditunda
Di Singapura, misalnya, benteng-benteng bersejarah itu dikemas sebagai kawasan wisata di kompleks Resort World Sentosa. Jawa Pos (induk Bandung Ekspes) bulan lalu sempat menyaksikan bagaimana Singapura menghidupkan sisa-sisa sejarah tersebut. Jejak peninggalan masa lalu di benteng-benteng itu bisa dipadukan mesra dengan fasilitas kekinian yang berupa taman bermain anak, museum, dan pantai.
Ady mengaku, sebelum bukunya terbit, dirinya sempat mendorong Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya untuk mencontoh yang dilakukan Singapura itu. Namun, niat tersebut tak bersambut.
Bahkan, kedatangan Ady bersama seorang perwira TNI yang juga pegiat sejarah pun tak ditemui Kadisbudpar. ”Padahal, saya cuma ingin sejarah itu tetap utuh. Mumpung semuanya belum habis dan kita hanya bisa dengar ceritanya,” tuturnya.
Harapan Ady kini tertambat ke buku setebal 126 halaman karyanya. ”Semoga bisa menginspirasi banyak pihak untuk mempertahankan benteng-benteng bersejarah yang ada di Surabaya dan sekitarnya. Sebab, meskipun dibangun Belanda, benteng-benteng itu tak bisa dipisahkan dari dahsyatnya pertempuran Surabaya,” katanya. (*/c11/ttg/rie)
