Akhirnya, buku tentang benteng malah bisa selesai lebih dulu. Sedangkan buku tentang veteran Indonesia dan Belanda dalam pertempuran Surabaya kini belum rampung. Buku yang akhirnya diberi judul Benteng-Benteng Surabaya itu akan diluncurkan 14 November mendatang.
”Sebenarnya ingin saya launching untuk kado Hari Pahlawan (10 November, Red). Tapi, karena kesibukan, baru sempat tanggal 14-nya,” terang pria 33 tahun itu.
Selain Belanda, Ady juga mengumpulkan data dan riset dari sejumlah tempat. Mulai Surabaya, Gresik, Madura, Cilacap, sampai Singapura. ”Semuanya saya lakukan dengan uang pribadi dan bantuan seikhlasnya dari teman-teman yang peduli terhadap sejarah,” ujarnya.
Baca Juga:Inspirasi Fashion dari InternetSidang Putusan Gotas Ditunda
Ada tujuh benteng yang dibahas Ady dalam bukunya. Tersebar mulai Surabaya (benteng Kalidawir, Kedung Cowek, Oosterkust Batterij), Gresik (benteng Semaboeng, Lowediwj), hingga Bangkalan (penyimpanan amunisi di Jaddih, Batuporon). Sebagai pembanding, Ady juga membahas benteng yang ada di Pulau Nusakambangan, Cilacap, dan Pulau Sentosa, Singapura.
”Kalau menurut cetak birunya, sebenarnya ada sebelas benteng yang dibuat untuk melindungi Surabaya kala itu. Tapi, yang tersisa hanya yang saya tuliskan di buku,” terang suami dr Rr Danti Ayu Irawati itu.
Dia mengaku sempat beberapa kali mutung untuk menyelesaikan proyek idealis tersebut. Sebab, beberapa kendala kerap menghadang. Mulai kesibukan bekerja di BLPS, persoalan dana, sampai tidak adanya respons dari Pemkot Surabaya maupun Pemprov Jatim. Dukungan justru ditunjukkan perorangan, kebanyakan anggota TNI dan pemerhati sejarah.
Misalnya soal keperluan riset di Belanda. ”Selain dari tabungan, saya juga dibantu dari donasi teman-teman Roodebrug (komunitas sejarah yang didirikan Ady, Red) dan kawan-kawan di Belanda,” tutur dia.
Untuk menghemat biaya hidup di Negeri Kincir Angin, Ady numpang tinggal di rumah temannya, warga negara Belanda yang juga pegiat sejarah. ”Yang membuat saya harus lama di Belanda, saat saya datang, Nationaal Archief sedang tutup untuk renovasi. Saya harus nunggu dua minggu, yang lantas saya manfaatkan untuk ke Normandia,” kenangnya.
Kerja keras Ady akhirnya tak sia-sia. Dia berhasil menuliskan dengan detail kondisi dan fungsi benteng-benteng di sekitar Surabaya. Benteng Kedung Cowek, misalnya, menjadi saksi bagaimana pejuang Indonesia menahan gempuran sekutu saat meletus pertempuran Surabaya.
