Telusuri ‘Persembunyian’ RE

Mahasiswa dan anak muda yang mondok di tempat Ricky ini umumnya khas: mereka yang minat risetnya tinggi, egaliter dan jiwanya menyala-nyala. Gadis yang duduk lesehan di sebelah saya ini misalnya, lulusan S1 dan S2 ITB. Bapaknya dosen, ibunya dokter di Bandung. Para pemudi itulah, bersama istri Ricky yang cantik itu, yang menyiapkan makanan untuk berbuka dan sahur.

Yang lebih banyak adalah mahasiswa kuliah praktek. Dari berbagai universitas. Ricky sendiri sudah berkunjung atau memberi kuliah di 150 universitas selama tiga tahun terakhir. Untuk menumbuhkan minat anak muda di dunia baru ini.

Malam itu Ricky juga yang menjadi imam salat tarawih. Sekaligus mengisi ceramah agama. Temanya tentang perbedaan ilmu fikih dan ilmu cara mendekatkan diri pada Tuhan. Teori dari filsuf agung Imam Al Gozali. Malam itu saya ikut tidur di pondok itu.

Sejak kegiatan mobil listrik terhenti, Ricky mengistirahatkan 150 anak muda yang terlibat langsung dalam praktik membuat mobil listrik. Pulang ke daerah masing-masing dulu. Dia juga menghindari permintaan untuk membuat listrik tenaga angin bagi NTT. Ini karena anggarannya dari pemerintah. Hari itu mestinya Ricky menandatangani kontrak tapi dia membatalkan. Dia bertekad konsentrasi membina pondoknya itu. ’’Sudah terlanjur meninggalkan Jepang,’’ ujarnya.

Di pondok itu, dia dirikan kincir-kincir tenaga angin. Berbagai jenis. Ada yang buatan negara barat ada juga buatannya sendiri. Tipenya pun bermacam-macam. Model ekornya juga tidak sama. ’’Agar mahasiswa bisa membanding-mbandingkan teknologinya,’’ katanya. ’’Lalu kita diskusikan,’’ tambahnya.

Ada yang kincirnya berputar kencang. Ada yang pelan. Ada juga yang sudah lama berhenti. ’’Yang berputar pelan itu karena disain ekor tidak cocok. Tidak bisa cari arah angin,’’ katanya.

’’Kalau yang berhenti itu?,’’ tanya saya. ’’Itu buatan …. yang banyak dibeli untuk dijadikan bahan pembelajaran di berbagai universitas kita,’’ jawabnya. Dia lantas menyebutkan nama negara barat itu.

Dengan ciptaannya itu Ricky sudah melistriki beberapa desa terpencil di Sumba. Sudah 100 kincir dia dirikan di Sumba. Bisa saja suatu saat nanti dia akan disalahkan. Sebagian dari dana itu berupa CSR Pertamina.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan