oleh

Margareith Resmi Tersangka

JAKARTA – Setelah melalui pemeriksaan dan pengumpulan bukti yang panjang, Polda Bali akhirnya secara resmi telah menetapkan Margrieth Megawe sebagai tersangka pembunuhan atau penganiayaan yang menyebabkan anak angkatnya ANG meninggal dunia. Bahkan, Polda Bali menduga bahwa Margreith sebagai pelaku utama pembunuhan bocah kelas III SD di Sanur, Bali, itu.

’’Ya, benar nyonya MM (Margareith Megawe) sudah ditetapkan sebagai tersangka pelaku pembunuhan dan atau penganiayaan yang menyebabkan Ang meninggal dunia,’’ kata Kapolda Bali Irjen Pol Ronny F Sompie Minggu (28/6) malam.

Dengan begitu, Margrieth pun kini menyandang dua status tersangka. Ya sebelumnya dia dijerat tersangka dugaan penelantaran anak. Ronny menegaskan, Polda Bali menjerat Margrieth sebagai tersangka setelah memiliki dua alat bukti permulaan yang cukup.

Dengan begitu, Margareith merupakan tersangka kedua yang dijerat polisi setelah Agustinus Tae, yang merupakan mantan pembantu rumah tangganya.

Menurut Ronny, penyelidikan kasus ini berjalan alot. Bahkan, Mabes Polri harus menurunkan tim Laboratorium Forensik dan Indonesia Automatic Finger System (Inafis) untuk membantu menelisik lebih dalam kematian bocah lucu tersebut. Apalagi, sebelumnya keterangan Agustinus Tae selalu berbelit-belit dan membuat Polri harus kerja ekstra keras. Bahkan, Polri pun harus menggunakan alat uji kebohongan memeriksa Agustinus.

Setelah melalui serangkaian proses penyelidikan yang panjang, Polda Bali dan Polresta Denpasar pun berkesimpulan menemukan dua bukti permulaan yang cukup untuk menjerat Margareith sebagai tersangka pembunuhan ANG.

Menurut Ronny dalam wawancara via telepon dengan salah satu stasiun televisi swasta, Minggu (28/6) malam, alat bukti itu antara lain pengakuan tersangka Agustinus Tae tentang dugaan keterlibatan Margareith. Ditambah lagi hasil pemeriksaan dari tim forensik RSUP Sanglah, Denpasar, Bali.

Bareskrim Polri juga sudah berkali-kali melakukan olah tempat kejadian perkara, melibatkan tim Inafis dan Labfor Mabes Polri. ’’Tak hanya Inafis saja, Labfor juga akan melakukan olah TKP. Mungkin sekitar dua atau tiga kali dilakukan,’’ kata Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, Selasa (23/6) lalu.

Polri ingin punya bukti yang kuat dalam menjerat tersangka baru dalam kasus ini. Setiap keterangan saksi akan dilengkapi dengan alat bukti yang menguatkan. ’’Secara prinsip Polri itu keterangan apapun yang diberikan, kita harus cari alat bukti yang menguatkan,’’ jelas Haiti.

Sebelumnya, saat melakukan olah TKP tim menemukan bukti baru yaitu sebuah kayu, bercak darah dan beberapa sidik jadi di kamar ibu angkat Ang. Tim juga membawa empat buah alat pel dan sapu dari rumah Margareith. Selain itu, ada juga kaos dan sebuah kayu dengan panjang hampir dua meter.

’’Ada kayu kami ambil dari kamar ibu M. Ada bercak darah juga. Kami juga ambil sidik jari,’’ tambah Ketua Tim Inafis Mabes Polri, AKBP Yuswanto, usai olah TKP beberapa waktu lalu.

Kabar ditetapkannya Margareith Megawe sebagai tersangka pembunuhan anak angkatnya, ANG sampai juga ke telinga Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait. Dia mendapat kabar tersebut langsung dari Kapolda Bali Irjen Pol Ronny F Sompie.

’’Iya, tadi jam setengah delapan saya berdialog dengan Kapolda. Beliau bilang sudah menetapkan tersangka baru, yakni Margareith. Cukup lega mendengarnya,’’ ujar Arist saat dihubungi kemarin (28/6).

Meski terbilang cukup lama menetapkan ibu angkatnya menjadi tersangka, Arist mengapresiasi langkah Kapolda Bali berserta anak buahnya yang sudah berupaya mencari berbagai bukti keterlibatan Margareith. ’’Ya patut kita apresiasi bersama penetapan tersangka ini, dengan kerja keras pihak Polda Bali. Mereka juga mau mendengarkan masukan-masukan dari kami terkait kasus ini,’’ papar Arist.

Arist meyakini penetapan Margareith yang cukup lama karena Polda Bali tak mau gegabah dan terburu-buru menetapkan sebagai tersangka. ’’Saya kira ini atas kehati-hatian, yang substansinya agak lama. Jangan sampai orang tidak bersalah tapi ditetapkan jadi tersangka. Ya tapi apapun itu, kita patut memberikan apresiasi,’’ tandasnya.

Pria berambut ikal ini menilai, ada persengkokolan besar yang terjadi di dalam seisi rumah Margareith. Mulai dari membuat informasi di Facebook kalau ANG hilang dari rumah, sampai pura-pura peduli mencari dan menyebar beberapa brosur. Bahkan, menurut Arist cara mengubur ANG di belakang pekarangan rumahnya juga terbilang cukup rapi.

’’Ini menandakan ada persekongkolan jahat seisi rumah itu. Angeline terkubur begitu sempurna di belakang rumah sampai penyidik bolak-balik terkecoh. Penyidik bahkan nggak mencium gelagat mencurigakan. Ini seperti sudah direncanakan,’’ duga Arist. Karena itu, Arist berharap para tersangka pembunuh ANG diberi hukuman yang setimpal atas perbuatannya.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan, penetapan Margareth sebagai tersangka bukan disebabkan giringan opini yang sudah berkembang di masyarakat terkait keterlibatan Margareth. Dia menagaskan, penetapan Margareth murni hasil penyelidikan yang dilakukan penyidik Polda Bali. ’’Berdasarkan hasil inafis dan lie decector, penyidik baru bisa menetapkan Margareth sebagai tersangka,’’ ujarnya ketika dihubungi tadi malam.

Oleh karenanya, dia meminta masyarakat untuk tidak beropini macam-macam, dan mempercayakan penanganan kasus Angeline ke kepolisian. ’’Karena kita nggak bisa menetapkan tersangka tanpa ada buktinya dahulu,’’ imbuhnya.

Sementara terkait adanya kemungkinan tersangka lain, Badrodin menyerahkan sepenuhnya ke penyidik. Hanya saja, mantan Kapolda Jatim tersebut menganggap kemungkinan itu sangat kecil. Kendati demikian, dia menegaskan, pihak kepolisian tidak menutup kemungkinan tersebut. Jika dalam perjalanannya ada keterlibatan pihak baru, polisi akan selidiki. ’’Termasuk jika ada laporan baru dari masyarakat,’’ pungkasnya. (jp/tam)

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga