oleh

Jangan Corat-Coret

[tie_list type=”minus”]Disdikpora KBB Akan Kordinasi dengan Pihak Sekolah[/tie_list]

NGAMPRAH – Meskipun sudah diimbau untuk tidak melakukan aksi corat-coret saat perayaan kelulusan SMA, tapi diperkirakan masih banyak siswa yang melakukan hal ini sebagai selebrasi kelulusan mereka. Agar aksi corat-coret tidak dilakukan berlebihan dan mengganggu ketertiban, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bandung Barat (KBB) akan berkoordinasi dengan pihak sekolah dan kepolisian.

Kepala Bidang SMA/SMK Disdikpora KBB Hasanudin menyatakan, langkah yang diambil dengan melakukan koordinasi dengan setiap sekolah, agar para siswa diberikan petunjuk dan imbauan untuk tidak melakukan aksi corat-coret pada baju sesudah dinyatakan kelulusan sekolah. ”Untuk menghindari aksi corat-coret dan tawuran, kami akan berkoordinasi dengan sekolah dan meminta komitmennya dalam mengendalikan siswanya supaya tidak mengganggu ketertiban masyarakat lainnya,” katanya kepada wartawan di Ngamprah kemarin (14/5).

Tapi pada dasarnya, kelulusan Ujian Nasional (UN) tahun ini jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena pada tahun ini pihak sekolah yang berperan penting dalam kelulusan siswa/siswinya. Jadi, kata dia, aksi corat-coret sebaiknya tidak perlu dilakukan dan pakaian seragam lebih baik disumbangkan pada pihak yang masih membutuhkannya.

”Sekarang ada tiga komponen faktor penentu kelulusan siswa dan sekolah mempunyai otoritas lebih kuat untuk meluluskan siswanya atau tidak. Jadi aksi corat-coret sudah bukan zamannya lagi dan pakaian seragam sebaiknya diberikan pada adik kelas yang masih membutuhkannya,” bebernya.

Sementara itu, Ilham, 17, salah seorang siswa SMA di Lembang mengaku, akan melakukan aksi corat-coret di bagian baju yang kenakannya selama 3 tahun sebagai wujud bersyukur untuk merayakan kelulusan. ”Ini tidak tiap tahun dan merupakan kelulusan SMA terakhir yang tidak dapat terulang lagi,” katanya.

Dirinya sadar bahwa setelah lulus SMA, gerbang kehidupan akan sangat jauh berbeda dengan sebelumnya, karena harus mengawali hidup yang baru. ”Belum tahu setelah lulus apa mau kuliah atau kerja, mungkin setelah perayaan baru kepikiran langkah ke depannya,” bebernya.

Siswa lainnya, Rini Sumini, 17 mengaku, tidak akan melakukan corat-coret lantaran baju yang dikenakannya akan dipakai oleh adiknya yang saat ini masih duduk di bangku SMP. ”Dari pada dicorat-coret kan sayang, mending dipakai buat adik saya,” katanya.

Menurut Rini, dengan aksi corat-coret juga dinilai tidak memiliki manfaat. Namun, justru memberikan dampak negatif. Bahkan, seharusnya kebiasaan bagi kelulusan SMA ini tidak dilakukan karena bakal membawa dampak negati kepada adik-adik kelas lainnya yang akan naik ke kelas 3 SMA. ”Sekarang seharusnya dihilangkan kebiasaan melakukan corat-coret itu,” tandasnya. (drx/fik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga