oleh

BATAN Bangun Reaktor Mini

JAKARTA – Penolakan demi penolakan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) tidak membuat Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) putus asa. Dalam waktu dekat, akan dibangun reaktor nuklir mini di Serpong, Tangerang. Reaktor riset itu dijadikan ujung tombak dalam mensosialisasikan nuklir yang aman.

Kepala Batan Djarot S. Wisnubroto kemarin (12/4), menjelaskan, payung hukum untuk membangung tenaga nuklir sudah ada. Yakni, Undang-Undang (UU) 17/2007 soal Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan UU 30/2007 tentang energi. ”Harusnya, PLTN sudah beroperasi antara 2015 sampai 2019,” ujarnya.

Namun, sampai saat ini tidak ada realisasi. Tidak mau terus gagal, pihaknya mengambil cara yang berbeda untuk sosialisasi. Yakni, membangun reaktor mini di Serpong sebagai bentuk edukasi. Pembangunan reaktor senilai Rp 1,6 triliun itu juga sebagai tindak lanjut dari survey di akhir 2014.

”Dari hasil survey, 73 persen masyarakat mendukung PLTN. Alasannya, sudah capek dengan bayar pet,” katanya. Lebih lanjut dia menjelaskan, karena sifatnya untuk riset, reaktor mini di Serpong tidak menghasilkan listrik. Meskipun dari reaktor itu bisa menghasilkan listrik 30 Mega Watt (MW).

Reaktor mini itu melengkapi dua reaktor kecil lainnya yang sudah ada. Yakni, di Bandung sebesar 2 MW, dan di Jogjakarta dengan kapasitas 100 Kilo Watt (KW). Khusus untuk yang di Serpong, saat jadi nanti bisa menjadi ”wisata” pendidikan. Masyarakat bisa melihat lebih dekat teknologi yang digunakan.

Untuk nilai investasi, Djarot mengakui cukup mahal. Tapi, tidak bisa dihindarkan karena pihaknya hanya membangun ukuran kecil. Saat direalisasikan menjadik reaktor nulir yang sesungguhnya, tentu saja bisa lebih murah. ”Per 1.000-1.500 MW, butuh Rp 25-30 triliun untuk daerah beresiko rendah,” terangnya.

Sedangkan untuk daerah dengan resiko tinggi, investasinya bisa Rp 50 triliun. Daerah beresiko yang dimaksud Djarot adalah seberapa besar kawasan PLTN terkena tsunami atau gempa bumi. Untuk saat ini, Batan merencanakan membangun PLTN di Bangka atau Kalimantan, tempat yang relatif aman dari bencana.

Kalau di Bangka terwujud, reaktor yang menghasilkan listrik 10 ribu MW bisa mengaliri seluruh Sumatera dengan listrik. Ditambah dengan pembangkit yang sudah ada, dipastikan tidak ada lagi kekurangan listrik di Sumatera. Namun, untuk tahap awal direncanakan terbangun lebih dahulu 5 ribu MW pada 2025.

Menristekdikti Muhammad Nasir menambahkan, saat ini pihaknya tidak buru-buru dalam merealisasikan PLTN. Banyaknya penolakan membuat opsi edukasi dan pengenalan menjadi paling masuk akal. ”Sosialisasi sekarang berubah. Dulu fisik (PLTN) tidak ada. Sekarang dibangun dulu,” terangnya.

Selain mempersiapkan reaktor mini, dia menyebut protokol keamanan dan kebencanaan PLTN juga sudah dipersiapkan. Dari reaktor mini di Serpong, Bandung, dan Jogjakarta bisa menjadi tempat yang pas untuk mempelajari protokol itu. ”Alhamdulillah, sampai sekarang tidak ada kejadian apa-apa,” tuturnya.

Sementara, anggota Komisi VII DPR Agus Sulistiyono mendukung adanya pengembangan PLTN. Dia sempat pesimis dengan target pemerintah dalam proyek pembangkit 35 ribu MW. Sebab, tidak menggunakan nuklir. Begitu juga dengan Permen ESDM 27/2014 tentnag energi nasional juga tidak membahas soal PLTN.

”Kebutuhan PLTN sudah sangat urgent,” terangnya. Namun, dia sadar kalau masyarakat banyak yang was-was dengan teknologi nuklir. Apalagi, ada contoh buruk yakni Chernobyl di Ukraina, dan Fukushima di Jepang. Itulah kenapa, dia berharap Batan maun Kemenristekdikti bisa melakukan sosialisasi dengan baik. (dim/fik)

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga