oleh

Berani Kalahkan Rasa Takut

PADALARANG – Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan salah satu perguruan tinggi favorit di Bandung. Tidak heran setiap tahun banyak siswa yang mendaftar ke ITB. Salah satunya Hasna Noviani. Dia merupakan lulusan SMA Negri 1 Padalarang angkatan 2012.

inspirasi -Hasna - bandung ekspres
Hasna Noviani
Mahasiswi

Saat di kelas 12 semester satu, dirinya sering mencari tahu tentang profil perguruan tinggi. Hasna juga melihat profil ITB, dirinya sempat merasa takut untuk masuk ITB. Ketika menginjak semester dua, dirinya berkenalan Deti Karnia, kakak tingkatnya di sekolah. Barulah Hasna yakin dengan pilihannya untuk melanjutkan dirinya ke ITB. Dari sana juga, Hasna mulai mengikuti beberapa try out yang diadakan di ITB.

”Orang tua awalnya sempat nggak yakin apakah saya bisa masuk ITB atau tidak,” tutur Hasna kepada Bandung Ekspres, belum lama ini. Hasna menambahkan, hal itu membuat dirinya sempat tidak percaya diri. Seiring berjalannya waktu, dirinya mulai percaya diri untuk daftar ke ITB.

Di SMA, Hasna mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Hal ini karena dirinya menghindari mata pelajaran yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahun Alam (IPA). Khususnya fisika dan kimia.Namun, saat Seleksi Besar Masuk Perguruan Tinggi Negri (SBMPTN), Hasna yakin untuk mendaftar ke ITB.

Baca Juga:  Aktif Olahraga Pagi, Dian Sastro Beri Inspirasi Kaum Rebahan

Dia mau tidak mau harus mengambil jurusan yang bersangkutan dengan IPS. Di ITB, hanya fakultas School Bisnis Managemen (SBM) yang bisa dari jurusan IPS. Hasna termotivasi lantaran Aliya Rajasa yang notabanenya adalah anak menteri bisa kuliah di ITB. Hal ini membuat Hasna semakin bersemangat untuk masuk tersebut.

”Setelah perjualan yang panjang, akhirnya saya masuk ITB di tahun 2012,” ujar Hasna. Dia menambahkan, bawa perjuangan dirinya tidak berhenti di situ saja. Semester satu dan dua adalah perjuangan yang sebenarnya di ITB. Karena pada saat itu dirinya sempat bertanya apakah mampu terus berada dan lulus di ITB.

Ketika semester satu dirinya harus berhadapan dengan mata kuliah kalkulus. Hal ini yang menjadi tantangan terberat, sebab di SMA dirinya tidak pernah belajar kalkulus. Kadar belajar matematika di SMA tidak setinggi dengan jurusan IPA. Di tambah dengan hampir semua mata kuliah menggunakan bahasa Inggris. Baik dalam presentasi atau dalam soal.

”Kalkulus itu bagi saya sangat sulit. Ditambah soalnya bahasa inggris. Saya harus mengerti bahasa inggris terlebih dahulu baru saya bisa mengerjakan, ha-ha-ha,” ucap Hasna sambil tertawa.

Baca Juga:  Aktif Olahraga Pagi, Dian Sastro Beri Inspirasi Kaum Rebahan

Menurut dia, semester satu dan dua adalah masa-masa sulit. Harus belajar bahasa inggris, harus belajar mata kuliah yang berasal IPA, ditambah dengan adaptasi dengan lingkuan ITB.

Di tingkat dua, barulah Hasna bisa bernafas lega. Bahkan IP yang didapat mencapai 3,40. Akan tetapi, kegiatan di tingkat dua semakin meningkat. Dirinya bergabung dengan Keluarga Mahasiswa School Bisnis Managemen (KM-ITB) dan Indonesia Satoe yang dibuat oleh Aliya Rasaja. Hasna di tempat ke bidang pengabdian masyarakat. Bahkan di Lembaga itu, Hasna mengajar di Daerah Ciwideuy setiap minggunya. Di sana Aliya membuat desa binaan untuk meng-advokasi beberapa masalah. Tentunya tentang kemandirian kewirausahaan.

Hasna juga disibukan dengan tugas membuat company. Hasna bersama 18 orang temannya membuat Salirê Company. Kumpulan ini memproduksi tas. Mulai dari mendesain sampai penjualan. Hasna bergerak di bidang penjualan. Dua minggu kebelakang, Hasna mengikuti even yang ada di Jakarta dan mempromosikan tas dari Salirê Company,

”Ternyata setelah di jalani, kuliah di ITB tidak begitu menyeramkan. Bahkan sangat menyenangkan,” ujar Hasna. (mg5/fik)

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Baca Juga