oleh

Dinkes Cimahi Tarik Pil Dextro

Dinkes Cimahi Lakukan Pemusnahan sesuai Instruksi BPOM

CIMAHI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cimahi secara resmi sejak Oktober 2014 lalu menarik peredaran Dextro Metrhopan atau yang lebih dikenal pil destro di seluruh Puskesmas Cimahi yang kerap disalahgunakan oleh segelintir orang.

Penarikan pil dextro ini karena seringkali digunakan orang sebagai obat teler. Dengan efek samping mengantuk seperti kebanyakan obat, kerap kali dimanfaatkan agar merasakan teler. ”Kami di Dinas Kesehatan membawahi sebanyak 14 Puskesmas, dan sudah menarik semuanya. Namun, kalau apotik swasta dengan sendirinya sejak Juni 2014 dikembalikan ke distributor masing-masing,” kata Kabid Kesehatan Dinkes Farmamin Kota Cimahi, Elly.

Seperti diketahui, pil destro termasuk ke dalam obat batuk berjenis anti tusif atau penekan batuk. Karena penggunaan yang tidak sesuai indikasi serta dosis yang tidak tepat inilah, yang kemudian membuat pil destro disalahgunakan.

Dirinya menuturkan, sebagai salah satu aset negara, setelah ditarik dari pasaran, pihaknya tidak secara langsung melakukan pemusnahaan terhadap pil destro tersebut.

”Kalau di Dinas Kesehatan, karena bagaimanapun juga itu merupakan aset negara, makanya setelah ditarik kami kumpulkan di gudang Dinas, kemudian berkirim surat dengan Balai Besar Pom yang ditembuskan juga ke bagian aset dan Sekda,” terangnya.

Dia menambahkan, setelah ada surat resmi dari Balai Besar POM, barulah surat pemusnahannya akan ditindak lanjuti. Terkait obat-obatan yang kerap disalahgunakan ini, menurutnya, pihaknya selalu menindak lanjuti apabila ada surat resmi dari Kementeri Kesehatan atau adanya keluhan dari masyarakat.

”Karena biasanya masyarakat suka kritis dan ada laporan kalau ada obat-obat seperti itu. Selain itu, kami juga rutin melakukan pembinaan ke apotik, suka mantau terutama obat-obatan psikotropica atau narkotika,” ujarnya.

Surat edaran yang diberikan terkait obat-obatan yang disalahgunakan ini pun tidak hanya diberikan ke rumah sakit, namun diedarkan juga kepada distributor agar secara komprehensif langsung menarik dari apotik-apotik.

Alhamdulillah sejauh ini sudah bersih di pasaran, misalnya ada pun, itu bukan didapat dari apotik, tapi tidak menutup kemungkinan dari oknum masyarakat,” jelasnya.

Di lain pihak Bandung Ekspres berkesempatan bertemu dengan salah seorang mantan pengguna obat dextro tersebut yang kini sudah tidak mengkonsumsi obat-obatan yang bisa mengganggu syaraf-syaraf pada otak dan daya tahan tubuh.

Sebut saja Redi (nama samaran) yang berprofesi sebagai pengamen jalanan yang sering berpindah-pindah daerah ini. ia mengaku telah mengkonsumsi dextro tersebut selama hampir empat tahun lamanya.

Ketika dihampiri untuk dimintai keterangan terkait bagaimana efek dari dextro tersebut, dia sempat mengelak. Namun beberapa saat kemudian ia mengungkapkan bahaya menggunakan dextro.

”Ya, memang dulu saya konsumsi dextro,” Ujarnya. Dia melanjutkan, ”Sangat berbahaya sekali menggunakan obat dextro itu , karena sekali minum obat itu gak cukup satu butir, tapi harus lebih dari 10 butir, karena kalo makan satu butir gak ada efeknya. saya kurang lebih mengkonsumsi dextro hampir empat tahun lebih,” seraya mengingat-ingat berapa lama dia menggunakan dextro. (mg18/fik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga